“The spectacle is the moment when the commodity has attained the total occupation of social life.”
— Guy Debord
Jika dalam dunia medis, antidepresan bekerja dengan menyeimbangkan zat kimia di otak untuk menekan gejala kecemasan dan depresi, maka sosial media menawarkan efek serupa dengan mekanisme yang jauh lebih halus—dan karena itu lebih berbahaya. Ia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan perangkat afektif yang mampu mempengaruhi suasana hati, membentuk persepsi diri, dan bahkan menentukan nilai eksistensial seseorang di mata publik. Notifikasi berubah menjadi denyut jantung kedua; likes menjadi indikator cinta; komentar menjadi pengganti pelukan. Dalam dunia ini, validasi digital menjadi bentuk cinta paling mudah diakses—dan paling semu.
Media sosial adalah tempat di mana manusia melarikan diri dari kesepian, namun juga tempat di mana kesepian itu diproduksi dan dipelihara. Kita membuka aplikasi bukan karena ingin, tetapi karena perlu. Seperti seseorang yang membuka lemari obat di tengah malam, kita men-scroll tak berkesudahan demi sedikit dopamine yang menenangkan. Kita tahu itu tidak menyembuhkan, tapi kita tak tahu cara hidup tanpanya.
Zaman ini bukan hanya ditandai oleh percepatan informasi dan kemajuan teknologi, tetapi juga oleh meningkatnya kesunyian batin yang tak mampu lagi dibunyikan dengan bahasa yang jujur. Di tengah pusaran realitas yang kian cair dan rapuh, manusia modern mencari tempat berlindung. Ia tidak mencari jawaban, tapi pelipur lara. Ia tidak mencari kedalaman, tapi gangguan yang menenangkan. Dan dari semua bentuk pelarian itu, sosial media tampil sebagai pemenang mutlak—sebuah antidepresan baru yang tidak hanya menenangkan kecemasan eksistensial, tetapi juga membius kesadaran.
Di sinilah jebakan media sosial bekerja: ia mengalihkan, bukan menyelesaikan. Ia menawarkan kelegaan, bukan penyembuhan. Seperti antidepresan yang hanya meredam gejala, sosial media memoles penderitaan agar tampak estetis. Kesedihan menjadi caption yang puitis. Kesepian menjadi story yang terselip lagu sendu. Kita bukan menyelesaikan rasa sakit, melainkan memproduksinya dalam bentuk yang bisa dibagikan.
Dalam kondisi ini, yang dicari bukan pemahaman atas diri, melainkan perhatian dari luar. Kita belajar mengemas rasa, bukan menghayatinya. Kita menjadi kurator dari luka kita sendiri, memilih filter dan angle terbaik untuk momen-momen yang seharusnya dirasakan secara sunyi. Dan saat perhatian itu datang dalam bentuk “love” dan emoji menangis, kita merasa sembuh—padahal hanya mati rasa
Dalam dunia medis, obat hanya boleh diresepkan oleh dokter. Dalam dunia digital, algoritma adalah dokter baru kita. Ia tidak mengenakan jas putih, tapi tahu betul bagaimana merespons detak emosi kita. Dengan data yang terkumpul setiap detik, algoritma memahami apa yang membuat kita terganggu, apa yang membuat kita bertahan, dan apa yang bisa membuat kita merasa “berarti”. Ia tidak menyembuhkan, tapi memberi dosis hiburan, gangguan, atau empati semu yang cukup untuk membuat kita tetap hidup—dan terus menggulir layar.
Dengan algoritma, kesadaran tidak lagi berada dalam kendali penuh subjek. Kita tidak memilih konten, konten memilih kita. Bahkan perasaan pun kini bersifat algoritmik: kita menangis karena disodori video sedih; kita marah karena dilibatkan dalam trending topik; kita bahagia karena notifikasi berbunyi. Kesadaran menjadi terfragmentasi, terkelola oleh mesin yang hanya peduli pada keterlibatan, bukan kebenaran.
Inilah biopolitik baru: tubuh tidak lagi dikontrol secara langsung, tapi melalui jaringan hasrat yang dibentuk oleh citra. Psikologi manusia direkayasa lewat stimulasi konstan. Tidak ada waktu untuk diam, tidak ada ruang untuk kontemplasi. Media sosial menciptakan ritme yang terlalu cepat untuk berpikir, terlalu bising untuk merasa, dan terlalu penuh untuk menjadi.
Lebih menyedihkan, sosial media tidak hanya menjadi ruang pelarian, tapi juga pasar untuk penderitaan. Kesedihan, kecemasan, bahkan trauma, bukan lagi wilayah yang sakral dan intim, tapi komoditas yang bisa dibungkus dan dijual. Seseorang bisa menangis di depan kamera, bukan untuk menyembuhkan diri, tapi untuk membangun engagement. Patah hati, gangguan mental, kehilangan, semua bisa dipasarkan. Dan semakin dalam lukamu, semakin besar potensi viralnya.
Dalam masyarakat seperti ini, luka menjadi performa. Kita tidak lagi menyembuhkan, kita menjual. Setiap fragmen emosi diubah menjadi narasi yang bisa dikonsumsi massa. Ada pasar untuk curhat, ada audiens untuk duka. Dan mereka yang paling jujur kadang justru tenggelam dalam algoritma, kalah oleh mereka yang paling pandai mengemas perasaan.
Kita hidup dalam dunia di mana kesedihan yang estetis lebih dihargai daripada kebahagiaan yang sunyi. Dalam lanskap digital, tidak penting seberapa tulus perasaanmu—yang penting seberapa bisa itu dikapitalisasi.
Dalam kondisi demikian, subjek kontemporer bukan lagi manusia yang berpikir dan merasa secara utuh, melainkan manusia yang hidup berdasarkan stimulus eksternal. Ia tidak mengalami dunia, ia dikendalikan oleh dunia. Ia tidak memilih untuk bahagia atau sedih, tapi mengikuti narasi emosional yang disodorkan oleh layar.
Ia menjadi subjek yang mati rasa: terlalu sibuk tampil hingga lupa bagaimana cara merasa. Ketika cinta tidak lagi menyentuh, tapi hanya ditandai dengan emoji hati, dan ketika duka tidak lagi menyesakkan dada, tapi hanya menjadi suara latar TikTok, maka yang hilang bukan sekadar makna—yang hilang adalah manusia itu sendiri.
Menuju Kesadaran yang Merdeka
Di tengah dunia yang menormalisasi pelarian, barangkali bentuk perlawanan paling radikal hari ini adalah berani merasa secara utuh. Berani duduk dalam sunyi, tanpa layar, tanpa validasi, dan mendengarkan kegaduhan batin yang selama ini dibungkam. Untuk bertanya kembali: apa yang sebenarnya aku rasakan, dan mengapa?
Menolak candu bukan berarti menolak teknologi. Tapi menyadari fungsi candu adalah langkah awal untuk tidak menjadi budaknya. Kita tidak perlu meninggalkan media sosial, tetapi kita harus memisahkan diri dari logika yang membuat kita tergantung padanya.
Karena pada akhirnya, kesembuhan bukan datang dari perhatian orang lain, tapi dari keberanian untuk melihat luka apa adanya. Bukan untuk ditonton, bukan untuk dipuji, tapi untuk dipahami.
Kita bukan rangkaian angka yang bisa dipetakan oleh mesin. Kita adalah subjek yang lahir dari luka, tumbuh dari pertanyaan, dan menjadi utuh lewat pengalaman yang tak bisa selalu dibagikan. Dunia mungkin terus meminta kita untuk tampil. Tapi barangkali, keselamatan kita terletak justru pada keputusan untuk tidak selalu terlihat.
Dalam dunia yang menawarkan antidepresan bernama media sosial, barangkali satu-satunya bentuk kewarasan adalah berani merasa tanpa harus membagikannya.
Jurnal Bodat adalah limpahan risau & racauan gembira yang diswakelola oleh Bodat Clans.