SEBAB TIDAK ADA YANG PUNYA TEMPAT DIMANA PUN

” Merantau bukan sekadar pindah kota. Ia adalah perjalanan memerdekakan diri, sekaligus belajar menanggung sepi.”

Aku teringat obrolan ringan beberapa tahun lalu, 5 atau 6 tahun terakhir, mungkin? isi obrolan ringan itu menghadirkan satu poin yang bisa mengubah hidupku; Merantau. sebagai orang yang besar dan berkembang di kota yang membosankan dan sentimen terhadap keluarga pendatang seperti ku. aku memutuskan untuk menjalani pendidikan di Kota lain. Karena tinggal berarti membusuk di tempat yang sama. Kota ini menyambutku dengan dingin yang tidak disengaja; seperti seseorang yang membuka pintu karena mendengar suara, tapi tidak benar-benar ingin melihat siapa di luar.

Bagi ku, merantau adalah hal yang menyenangkan sekaligus menyebalkan, setidak-nya itu yang aku rasakan. Aku pikir, kamu bakal sepakat kalo aku bilang tinggal terpisah dengan keluarga bakal membuat kita merasa bebas dan lebih mandiri, tapi bakal sangat menyedihkan di waktu rindu datang tiba-tiba. Di kota asal, orang-orang sibuk mempertahankan sesuatu yang tidak ada. Mereka sombong pada tanah kelahiran seolah tanah itu peduli pada mereka.Tapi kenyataannya sederhana: tidak ada yang punya tempat di mana pun. Kita cuma kebetulan lahir di suatu titik.

Sebagai anak yang merantau, aku sesekali dijenguk orang tua dari kota asal. Bersama keluarga, aku menghabiskan waktu keliling kota, makan bersama (yang berarti; perbaikan gizi bagimu.) lanjut pergi ke tempat tempat yang pasti nya aku rekomendasikan. itu berlangsung menyenangkan sampai waktu tiba dimana keluarga harus pulang ke kota asal. waktu berpamitan, aku merasakan: kembali ke kehidupan yang hampa karena bakal ditinggal keluarga dan kembali hidup sendiri di kota ini. tapi jelas hal ini gak bikin aku pengen pulang ke kota ku yang begitu membosankan, lingkungan pertemanan yang tidak baik lagi, tata kota yang sangat berantakan, dan semua carut marut yg terjadi di kota itu.

Tapi, apapun keadaan kurang nikmat waktu aku hidup di kota ini, aku menyadari beberapa hal. yang pertama adalah ternyata lingkungan ku di kota sebelumnya itu menyimpan penuh kecurigaan dan kebencian kecil yang diwariskan begitu saja. banyak dr mereka membenci pendatang. entah dengan alasan apa. atau karena mereka merasa tersingkirkan dr tanah kelahiran mereka? kalaupun iya, memang begitu cara dunia berjalan. siapa pun yg tidak memiliki kapital akan perlahan disingkirkan lalu menyalahkan sesama yang sama sama lemah.

hal yang aku syukuri adalah aku bertemu kawan-kawan dari berbagai daerah, berjejaring dengan banyak orang, multikultural tentu nya. karena hal ini, banyak yang merubah cara pandang ku melihat bagaimana hidup berjalan. Dari keberagaman itu membuat ku membuka ruang baru di kepala ku. Yang paling menarik sebetulnya adalah kota ini memberi ku lingkungan pertemanan yang akhirnya terasa egaliter, meski rapuh. mereka membiarkan ku tumbuh tanpa menuntut untuk menjadi versi tertentu dari diriku. mereka tidak menjeratku dengan sentimen berlebih, tapi cukup hadir ketika kepala ku terasa penuh. Kami berbagi cerita, berbagi kesunyian, berbagi teori-teori kecil bahwa dunia ini mungkin hanyalah lelucon panjang yang bahkan penceritanya pun sudah lupa punchline-nya.

Pertemanan disini tumbuh bukan karena kesamaan masa lalu, tapi karena kesamaan nasib. Sama sama tidak punya siapa siapa di kota yang terasa terlalu besar. Di antara mereka, aku belajar bahwa pertemanan bukan tentang seberapa sering kita bertemu, tapi seberapa aman ketika kita duduk bersama. Tidak harus memahami sepenuhnya memang, tapi cukup tahu bahwa kalau suatu malam nanti dunia terasa menakutkan, ada nomor yang bisa dihubungi, ada pintu kos yang bisa diketuk, juga ada seseorang yang akan bilang, “ sini, cerita pelan pelan.”

kota ini menyimpan ruang kecil hangat yang datang dari berbagai arah. Tapi perlahan aku sadar: tidak ada pertemuan yang benar-benar berarti. Kami semua cuma bergerak, saling bersinggungan sebentar, lalu melanjutkan hidup masing-masing. Tidak ada yang dirayakan, tidak ada yang disesali.

ditulis oleh Gigi Lu Gendut.

ARSIP FILM ANARKIS

Arsip film ini berisi koleksi, yang terdiri dari film fitur, dokumenter, wawancara, paparan, dan video pendek yang sulit ditemukan—bertema pendidikan, keadilan, perlawanan dan pembebasan yang berorientasi pada anarkis atau libertarian. Koleksi ini tergeletak di puing-puing ChristieBooks1—situs yang kini telah sunyi.

Kami menjarah koleksi ini dari reruntuhan ChristieBooks dan menghadirkannya sebagai hadiah menjelang May Day. Semuanya bisa diakses secara gratis!

________________________________________________________________________________________________________________

A

B

C

D

E

F

G

H

I

J

K

L

M

N

O

P

Q

R

S

T

U

V

W

X

Y

Z

0-9

________________________________________________________________________________________________________

  1. Situs ini awalnya dikelola oleh Stuart Christie, seorang aktivis dan penulis anarkis asal Skotlandia. Setelah beliau meninggal pada Agustus 2020, situs ini dikelola oleh MayDay Rooms. Namun, saat ini situs tidak dapat diakses secara langsung. Sehingga, kontennya hanya bisa diakses melalui arsip di Wayback Machine. ↩︎

THE IRONY OF BECOMING ONCE YOU HATED!

Oleh: Peja

Bagi mereka yang hidup sebagai saksi kehancuran, 
Segala sesuatu di dunia ini tampak pudar; 
Dan hanya dalam hati yang penuh dengan rasa sakit, 
Segala sesuatunya berwarna biru.

Unduh poster di sini:

Fuck Israel

Fuck Zionisme

Fuck Netanyahu

FREE PALESTINA 

 

Tuhan Memberkati… Rekening Kami!

 

 

*Karya oleh Peja.

Ngakunya warga Liverpool yang hobi melamun di Sefton Park.

 

{LINK UNDUH POSTER}

 

+ Poster bikin aja, kalau bisa.

– Poster apaan tuh?

+ Aku baru ada kata-katanya doank:

Agama adalah Candu, Ormas Agama adalah Pecandu (Tambang)!

terserah gambarnya kayak apa.

 

*103 menit kemudian jadilah poster ini*

 

Begitulah proses bagaimana poster ini dibuat.

 

Max Stirner – yang Unik dan Miliknya

Sampul ini dibuat oleh: BajahitamJRX

Jadi gini, Max Stirner yang sering kalian lihat meme-nya seliweran di internet itu pertama kali menerbitkan karyanya di Jerman tahun 1844, lalu tahun 1907 dialih-bahasakan untuk pertama kalinya ke dalam bahasa Inggris oleh Steven T. Byington dengan judul The Ego and His Own . Sejak itu sampai sekarang, setiap edisi dari buku Stirner ini merupkan reproduksi atau revisi dari terjemahannya Byington. dan bukan suatu kebetulan, ada seorang individu yang sedang baik-baiknya, berusaha untuk menerjemahkan buku Stirner ini ke dalam bahasa indonesia untuk dipublikasikan kepada kalian semua yang suka membaca-bacaan. gausah banyak cingcong, Silakan langsung disedot:

Max Stirner – Yang Unik dan Miliknya-Jurnal Bodat (2024)

 

 


*) Ini merupakan perbaikan dari terjemahan sebelumnya yang (karena alasan tertentu) pernah kami publikasikan secara serampangan tanpa melalui proses penyuntingan. wkwk! semoga kalian bisa menikmati membaca yang satu ini, yhaa!


 

_

[ Redaksi Bodat ]

 

Max Stirner, Anarkis Individualis, dan Pandangan Kritis pada Komunisme Egois

MAX STIRNER, ANARKIS INDIVIDUALIS DAN PANDANGAN KRITIS PADA KOMUNISME EGOIS

“saya tidak membutuhkan filosofi kawanan untuk menipu diri sendiri dan fantasi komunisasi yang rela berkorban. Saya menentang kultus konformis kolektivis pekerja, yang meniadakan individu ke dalam peran permanen sebagai produsen dan konsumen. Ketika saya bekerja, saya melakukannya karena saya dipaksa dan diperas. Jadi saya menolak peran budak sebagai “pekerja”. saya ingin melihat penghapusan kerja sebagai sebuah konsep. Saya ingin melihat alat produksi dan distribusi direduksi menjadi abu, diledakkan, dibuang, dihancurkan, dan diganti dengan hutan pangan yang luas dan taman warna-warni yang tumbuh subur di atas puing-puing.”

________________

Komunisme egois adalah kontradiksi. Komunis egois ingin menghancurkan semua institusi kapitalisme dan menggantinya dengan yang komunis. Komune-komune inilah tempat keputusan besar masyarakat akan dibuat, apakah anda setuju atau tidak. Di sinilah tirani mayoritas atau ahli akan berlaku. Di sinilah anda akan diasingkan oleh hantu ciptaan anda sendiri. Komune-komune ini akan menjadi pembentukan aparatur negara baru. Ini akan menjadi instrumen yang digunakan untuk memutuskan langkah yang akan diambil, apa yang baik untuk saya, apa yang baik untuk minat saya.

Tetapi komunis egois berteriak bahwa masyarakat mereka akan sepenuhnya “sukarela”. Tapi itu akan menjadi kepatuhan sukarela. Kepatuhan pada komune, kepatuhan pada mayoritas, pada ahli dan pengelola. Jika tidak ada kepatuhan, akan selalu ada pembersihan. Saya yakin akan ada pasukan polisi komunis yang egois untuk menghadapi ancaman kontra-revolusioner yang tidak patuh

Bagaimana Cara untuk Mati?

 

Klik untuk Mengunduh —-> Bagaimana Cara untuk Mati  

 

Sebuah esai yang ditulis oleh seorang manusia berinisial “F”. Silahkan unduh dan bagikan kepada siapapun yang mungkin tertarik untuk membacanya.

Paradigma Anarkis: Perang Melawan Semua

Seringkali para aktivis kekirian mununjukkan identitas serta membanggakan ideologinya dengan sikap yang kritis terhadap birokrasi saat ini. Semakin hari semakin terlihat jelas kebodohan para kaum kiri yang menyuarakan demokrasi di dalam sebuah negeri demokrasi yang terbalik. Sebuah ideologi yang menganut kediktatoran of proletariat dengan masyarakat determinis yang menjadi minoritas sedang memimpikan demokrasi. Terlihat jelas bagaimana kebodohan mereka ditunjukkan; keadilan tidak akan pernah dapat diwujudkan pada sebuah sistem bernegara. Mari kita kaji kembali bagaimana kekejaman yang sering dilakukan oleh pemerintahan melalui histori masa lalu maupun masa kini.

Indonesia telah menorehkan sejarah kelam atas kemanusiaan pada tragedi genosida di tahun 65 ketika rezim Orla digulingkan oleh Soeharto, dan pada masa Orba banyak sekali pelanggaran HAM yang terjadi. Kali ini saya akan mengatakan sekali lagi dengan keras bahwa apapun yang mereka tunjukkan terhadap kalian semua hanyalah kompetisi tentang siapa yang lebih unggul dan dapat menguasai.

Indonesia adalah salah satu negara di Asia Tenggara yang memiliki sejarah kelam atas pelanggaran kemanusiaan. Blok Barat memenangkan kompetisi dalam negeri ini, seperti halnya Kamboja yang dikendalikan oleh kaum kiri dan mereka pun memiliki sejarah bagaimana pembantaian terjadi pada rezim Khmer Merah. Omong kosong tentang prinsip dan sebuah nilai ideal; kasus perampasan lahan secara paksa saat ini pun sering terjadi, ruang hidup masyarakat yang memposisikan diri di bawah hirarki selalu menjadi bahan utama dalam penindasan; mari bersikap angkuh tentang semua omong kosong perwakilan manapun, dan tertawakan setiap orasi, sumpah, janji, aturan, hukum, dan semua kebohongan yang mereka utarakan.

Saatnya kita jadikan tontonan pertarungan para imperator dengan kaisar yang saling berebut panggung. Dengan cara ini kita dapat sedikit melenggangkan tentang siapa yang akan mendominasi. Siapkan beberapa batu serta botol kaca, kita buat pertunjukan lebih menarik di dalam koloseum.

 


Ditulis oleh Persetansemua.

‘Dua Mode Sejarah Polisi’ oleh CrimethInc.

 

[ Download link zine tentang ‘Sejarah Polisi’ dari teks CrimethInc. ]

 

Jadi begini, web  favorit pegiat anarko-anarkoan pun penge- fans insureksi-insureksian aka CrimethInc. , pernah menerbitkan teks mengenai sejarah polisi lewat dua mode (patroli budak & kontrol pekerja sipil). Kebetulan, ada seorang individu yang sedang baik-baiknya, berusaha menerjemahkan itu untuk dibagi gratis kepada kalian semua yang suka baca-bacaan. Wes ya, nggak usah banyak cingcong, langsung aja serupuuuttt atas download link .

 

_

[ Redaksi Bodat ]