Paradigma Anarkis: Perang Melawan Semua

Seringkali para aktivis kekirian mununjukkan identitas serta membanggakan ideologinya dengan sikap yang kritis terhadap birokrasi saat ini. Semakin hari semakin terlihat jelas kebodohan para kaum kiri yang menyuarakan demokrasi di dalam sebuah negeri demokrasi yang terbalik. Sebuah ideologi yang menganut kediktatoran of proletariat dengan masyarakat determinis yang menjadi minoritas sedang memimpikan demokrasi. Terlihat jelas bagaimana kebodohan mereka ditunjukkan; keadilan tidak akan pernah dapat diwujudkan pada sebuah sistem bernegara. Mari kita kaji kembali bagaimana kekejaman yang sering dilakukan oleh pemerintahan melalui histori masa lalu maupun masa kini.

Indonesia telah menorehkan sejarah kelam atas kemanusiaan pada tragedi genosida di tahun 65 ketika rezim Orla digulingkan oleh Soeharto, dan pada masa Orba banyak sekali pelanggaran HAM yang terjadi. Kali ini saya akan mengatakan sekali lagi dengan keras bahwa apapun yang mereka tunjukkan terhadap kalian semua hanyalah kompetisi tentang siapa yang lebih unggul dan dapat menguasai.

Indonesia adalah salah satu negara di Asia Tenggara yang memiliki sejarah kelam atas pelanggaran kemanusiaan. Blok Barat memenangkan kompetisi dalam negeri ini, seperti halnya Kamboja yang dikendalikan oleh kaum kiri dan mereka pun memiliki sejarah bagaimana pembantaian terjadi pada rezim Khmer Merah. Omong kosong tentang prinsip dan sebuah nilai ideal; kasus perampasan lahan secara paksa saat ini pun sering terjadi, ruang hidup masyarakat yang memposisikan diri di bawah hirarki selalu menjadi bahan utama dalam penindasan; mari bersikap angkuh tentang semua omong kosong perwakilan manapun, dan tertawakan setiap orasi, sumpah, janji, aturan, hukum, dan semua kebohongan yang mereka utarakan.

Saatnya kita jadikan tontonan pertarungan para imperator dengan kaisar yang saling berebut panggung. Dengan cara ini kita dapat sedikit melenggangkan tentang siapa yang akan mendominasi. Siapkan beberapa batu serta botol kaca, kita buat pertunjukan lebih menarik di dalam koloseum.

 


Ditulis oleh Persetansemua.

‘Dua Mode Sejarah Polisi’ oleh CrimethInc.

 

[Link download zine tentang ‘Sejarah Polisi’ dari teks CrimethInc.]

 

Jadi begini, web favorit pegiat anarko-anarkoan pun penge-fans insureksi-insureksian a.k.a CrimethInc., pernah menerbitkan teks mengenai sejarah polisi lewat dua mode (patroli budak & kontrol pekerja sipil). Kebetulan, ada seorang individu yang sedang baik-baiknya, berusaha menerjemahkan itu untuk dibagi gratis kepada kalian semua yang suka baca-bacaan. Wes ya, nggak usah banyak cingcong, langsung aja serupuuuttt link download di atas.

 

_

[Redaksi Bodat]

Dunia Sedang Merangkak Menuju Kehancuran?

We crawl away from the 2020;
ashes, ashes, ashes, then,
we all fall to dust.

Hidup menjadi jauh lebih buruk dan tidak membahagiakan saat ini. di tengah dunia yang sedang dilanda wabah corona, semuanya menjadi terasa melelahkan, membosankan, dan juga membuat stress. ini aneh. siapa yang tak merasakannya? aku bahkan merasa bosan berada di rumah karena isolasi, padahal aku sudah melakukan itu sebelum kondisi mengharuskan semua orang melakukan isolasi  dan tampaknya itu membuatku merasa segalanya menjadi jauh lebih buruk jika dibandingkan dengan ketika aku melakukannya atas kemauan sendiri. mungkin kalian juga merasakan hal yang sama sepertiku.

jika segalanya terasa lebih buruk dari tahun-tahun sebelumnya karena kita sedang berada di penghujung peradaban, sepertinya kita harus berhenti menganggap bahwa 2020 adalah tahun yang buruk dan berhenti berpikir seolah-olah hal-hal buruk hanya terjadi tergantung pada tanggal dan perhitungan tahun di kalender. percayalah bahwa 2021, 2022, 2023, …., dst, tidak akan menjadi lebih baik, setiap hari akan terus memburuk dan semakin memburuk. badai pasti berlalu pun dengan segala hal buruk, tentu saja, tapi ketika satu hal buruk berlalu, hal buruk lainnya sudah menunggu di depan sana. mari berikan ucapan selamat datang dan berikan perayaan untuknya.

Kita semua sama-sama tahu bahwa saat ini hidup sedang berantakan dan menyebalkan, meski demikian, bukan berarti aku mengatakan bahwa kehidupan sebelum wabah datang itu menyenangkan, tapi mungkin apa yang akan terjadi pada beberapa dekade selanjutnya akan membuat hari ini dan sebelumnya terlihat seperti kenangan indah. adanya wabah ini paling tidak memberikan kita kesadaran hingga kita tahu betapa mudahnya kehidupan ini berhenti dan seberapa cepat semuanya bisa berubah. pelajaran penting dari wabah ini: kehidupan yang kita kenal sekarang telah berakhir. tidak, aku tidak mengatakan bahwa isolasi akan terjadi selamanya. Tapi wabah ini tidak akan hilang dalam waktu dekat. Oleh karena itulah, dalam kurun waktu yang entah sampai kapan, kita akan hidup berdampingan bersama virus dan tentu saja ini akan merampas kehidupan kita dan menyebabkan gelombang depresi yang besar, melebihi yang pernah ada pada tahun 1930. jika sebelumnya dunia membentuk sebagian dari generasi kita menjadi generasi konsumtif yang sama murahannya dengan produk yang dibeli, saat ini dunia menjadikan kita generasi depresif karena sebagian besar umat manusia tidak memiliki tempat tinggal, tidak mampu untuk bertahan hidup, dan kebingungan untuk mencari nafkah karena sulitnya mencari pekerjaan dan juga upah yang semakin menurun, dst. mungkin kalian yang memiliki sejumlah tabungan mampu untuk bertahan tanpa harus dipusingkan dengan pilihan mengenai hal paling mendasar dalam hidup karena kalian mempunyai banyak akal untuk tetap memenuhi kebutuhan dasar kalian tanpa harus memilih sehingga kalian akan mampu melewati itu, masalahnya adalah ketika kalian menghabiskan pendapatan dan tabungan untuk memenuhi kebutuhan dasar, lama-kelamaan uang kalian akan habis karena kalian terlalu banyak mengeluarkan uang untuk mempertahankan kebiasaan kalian. pada titik inilah sepertinya kalian memang harus khawatir dengan apa yang akan terjadi beberapa puluh tahun ke depan.

dunia sedang merangkak maju menuju akhir peradaban dan wabah ini, mungkin, hanyalah awal dari segala hal lain yang lebih spektakuler, atau dengan kata lain, wabah adalah satu dari sekian banyak gambaran, peringatan, dan juga potret mengenai masa depan kehidupan kita yang suram. maka cukup mudah untuk membayangkan hal apa saja yang akan terjadi pada tiga atau empat dekade terhitung sejak wabah ini bergulir. perubahan iklim, kerusakan ekologi, depresi ekonomi, krisis keuangan, pergolakan politik, dan gelombang baru untuk wabah penyakit sudah menunggu di depan sana. perubahan iklim akan meningkatkan tingkat kepunahan ikan karena bumi mengalami ketidakstabilan suhu dan musim mengakibatkan air yang ditinggali ikan menjadi terlalu hangat sehingga ikan tidak bisa berkembang biak. disusul dengan kerusakan ekologi yang diawali dengan putusnya rantai kehidupan dan matinya hewan-hewan seperti cacing, serangga, lebah, dan seterusnya yang memiliki peran penting dalam berjalannya  kehidupan di planet ini. Sungai-sungai berubah menjadi lumpur karena ikan yang biasa membersihkan sungai, telah mati. tidak ada lagi yang akan memberi makan tanaman dan menjaga kesehatan hutan karena serangga pun telah pergi—mati. inilah saat di mana ekosistem di bumi mengalami penurunan yang tidak dapat diubah dan akan menyebabkan bencana bagi kita.

pew, di titik ini kehidupan di bumi perlahan mulai mati. 

bumi akan dilanda kekeringan, sungai tak lagi bersih, ini akan menjadi periode dimana air bersih menjadi sesuatu yang mewah. tanah berubah menjadi debu dan sulit untuk ditanami, tidak ada lagi panen, bahan mentah tidak lagi bisa diakses. tidak ada lagi makanan yang mudah didapatkan. pun dengan langkanya obat-obatan yang berbahan dasar senyawa, dan seterusnya. kita akan bersaing sengit hanya untuk mendapatkan makanan, yang tak mampu bersaing akan mati kelaparan. kematian massal menjadi penanda lenyapnya sebagian manusia bersamaan dengan peradaban saat ini tapi tidak menutup kemungkinan akan ada sebuah peradaban baru yang tentu saja akan berbeda dengan peradaban kita karena kehidupan manusia bisa saja berakhir tapi bukan berarti itu akhir dari proyeksi individu. siapa yang tahu? yang pasti adalah bahwa kehancuran telah ada di depan mata kita, wabah corona memberikan kita peringatan dan ia mengajari kita untuk bisa melihat akhir dunia dari sini. kita bisa melihat cahaya peradaban meredup kemudian padam. semua hilang dan yang tersisa hanyalah perjuangan yang putus asa dari manusia untuk mempertahankan hidupnya. saling ‘memakan’ satu sama lain hingga semua berubah menjadi debu, api, dan kematian. maka jika saat itu ada hukum universal yang berlaku di bumi, itu adalah kenyataan yang kuat memakan yang lemah. begitulah akhir dari peradaban manusia saat ini. biarkanlah semuanya hancur tapi kita harus pastikan bahwa kita akan menari diatasnya dan merayakan kehancurannya. 

Ocehan mengenai akhir dari dunia ini tak lebih dari sekadar omong kosong. kita tetap tidak akan pernah mengetahui dengan pasti kapan dunia ini benar-benar berakhir, tapi setiap tindakan yang manusia ambil adalah suatu kemungkinan yang bisa mengantarkan manusia menuju kepunahannya. hidup di akhir-akhir peradaban memang menyebalkan. bukan hanya karena hidup ini melelahkan, membosankan, dan suram. tapi karena kita tahu bahwa seharusnya kita bisa terhindar dari ini jika saja kita tidak melakukan sdlfj&@**#(@skdkj tapi sudahlah mungkin memang harus selalu seperti ini, kita harus selalu gagal agar kita bisa tetap mewariskan kegagalan kepada generasi setelah kita. seperti yang dilakukan oleh generasi sebelum kita kepada generasi kita.

 


Ditulis oleh: Vlen


Tulisan ini juga sedikit merangkum beberapa informasi dari tulisan di Medium yang berjudul If Life Feels Bleak, It’s Because Our Civilization is Beginning to Collapse

 

Anarkisme di Asia Timur

Anarkisme di Asia Timur

Selama dua dekade awal abad ke-20, anarkisme merupakan aliran pemikiran radikal paling penting di Asia Timur. Meski para anarkis Asia Timur tidak memberikan kontribusi orisinal yang berarti terhadap teori anarkis akan tetapi mereka berkontribusi memperkenalkan beberapa ide penting ke dalam politik dan budaya negara mereka, termasuk pendidikan universal, hak-hak kaum muda dan perempuan, dan tuntutan untuk menghapuskan semua pembagian kerja—Terutama antara pekerja balik meja dengan pekerja lapangan dan antara pekerja di sektor pertanian dengan industri. Mungkin kontribusi mereka yang paling signifikan dan bertahan lama adalah gagasan mengenai “revolusi sosial”—Pengertian “revolusi sosial” di sini adalah gagasan bahwa perubahan politik revolusioner tidak dapat terjadi tanpa perubahan radikal dalam masyarakat dan budaya, khususnya penghapusan institusi sosial yang secara inheren bersifat paksaan dan otoriter, seperti keluarga tradisional. Meskipun beberapa anarkis di Asia Timur mencoba untuk menciptakan revolusi melalui kekerasan, yang lain menolak kekerasan dan mendukung cara-cara damai, terutama melalui pendidikan. Namun demikian, mereka semua percaya bahwasannya politik ditentukan oleh masyarakat dan budaya, oleh karena itu masyarakat dan budaya harus menjadi fokus dari upaya revolusioner mereka.

 

Anarkisme di Jepang

Kotoku Shusu seorang penulis sekaligus aktivis Jepang adalah orang pertama di Asia Timur yang menyebut dirinya sendiri seorang anarkis. Pada tahun 1901, Kotoku, seorang pendukung awal sosialisme Jepang, ia membantu mendirikan Partai Sosial Demokrat, yang segera dilarang oleh pemerintah. Pada awal 1905, ia menerbitkan surat kabar Heimin shimbun (“Surat Kabar Rakyat”), yang mengecam Perang antara Rusia dan Jepang, surat kabar itu ditutup dan Kotoku dikurung. Saat di penjara, ia sangat terpengaruh oleh literatur anarkis—Terutama Fields, Factories and Workshops karangan Kropotkin—dan menerima anarkisme dengan sepenuh hati. Ketika di penjara ia menulis kepada temannya, “(aku) pergi [ke penjara] sebagai seorang Marxis-Sosialis dan kembali sebagai seorang anarkis radikal.” Setelah lima bulan di penjara, Kotoku melakukan perjalanan ke Amerika Serikat, dimana ia bekerja sama dengan anggota The Industrial Workers of the World (IWW), yang dikenal sebagai ‘Wobblies’. Pengalamannya di Amerika Serikat membuatnya meninggalkan politik parlementer demi strategi “aksi langsung” yang penuh kekerasan.

Setelah kembalinya ke Jepang pada Juni 1906, Kotoku mulai mengorganisir pekerja untuk kegiatan radikal. Dia juga berhasil meyakinkan Partai Sosialis Jepang yang baru didirikan untuk mengambil pandangannya tentang aksi langsung. Pada tahun 1910, Kotoku termasuk di antara ratusan orang yang ditangkap karena terlibat dalam konspirasi untuk membunuh Kaisar Meiji. Meskipun ia telah menarik diri dari konspirasi sebelum penangkapannya, Kotoku diadili karena pengkhianatan dan dieksekusi pada tahun 1911. Kematiannya menandai awal dari “periode musim dingin” untuk anarkisme di Jepang, yang berlangsung sampai akhir Perang Dunia I.

 

 

Anarkisme di China

Tak lama setelah 1900, sebagai bagian dari reformasi yang mengikuti kegagalan pemberontakan Boxer, Dinasti Qing mulai mengirim banyak pemuda Cina untuk belajar di luar negeri, terutama di Perancis, Jepang, dan Amerika Serikat. Di tempat-tempat ini dan di tempat lain, mahasiswa Tiongkok mendirikan organisasi nasionalis dan revolusioner yang berkomitmen untuk menggulingkan rezim kekaisaran. Dua yang paling penting dari kelompok ini—World Association, yang didirikan di Paris pada tahun 1906, dan the Society for the Study of Socialism, yang didirikan di Tokyo pada tahun 1907—yang secara gamblang mengadopsi program-program anarkis.

Antara tahun 1907 dan 1910, World Association menerbitkan sebuah majalah, The New Century, yang merupakan sumber informasi penting tentang teori anarkis dan gerakan anarkis Eropa dalam bahasa Cina. Mempromosikan anarkisme individualistis dan “futuristik”, majalah ini adalah salah satu publikasi berbahasa Cina pertama yang secara gamblang menyerang tradisi adat, terutama Konfusianisme. Di sisi lain, the Society for the Study of Socialism, lebih menyukai anarkisme anti-modern yang dipengaruhi oleh pasifis-radikal sekaligus novelis Rusia, Leo Tolstoy, yang menekankan kedekatan antara anarkisme dan arus filosofis Cina di masa lampau, terutama Taoisme. The Society for the Study of Socialism melalui publikasinya, Natural Justice and Balance,  mendorong program-program Kropotkin untuk menggabungkan sektor pertanian dengan industri dan pekerja balik meja dengan lapangan, ide-ide yang nantinya akan memiliki dampak berkelanjutan pada radikalisme Cina.

Aktivitas anarkis yang signifikan di Cina sendiri baru dimulai setelah revolusi Cina (1911–12). Para anarkis Cina yang belajar di Paris (yang disebut “Paris Anarkis”) kembali ke Beijing dan segera terlibat dalam reformasi pendidikan dan kebudayaan. Yakin akan perlunya revolusi sosial, para anarkis Paris menganjurkan ilmu pengetahuan Barat yang menentang agama dan takhayul, menyerukan pembebasan perempuan dan pemuda, menolak keluarga tradisional dan nilai-nilai Konfusianisme yang menjadi dasarnya, dan secara eksperimental terorganisir komunitas studi kerja sebagai alternatif dari bentuk tradisional keluarga dan kehidupan kerja. Gagasan dan praktik ini sangat mempengaruhi gerakan Budaya Baru pada akhir 1910-an dan awal 1920-an. Dipimpin oleh generasi intelektual yang dikirim ke luar negeri untuk belajar, gerakan ini sangat kritis terhadap semua aspek budaya dan etika Tiongkok tradisional dan menyerukan reformasi menyeluruh di lembaga-lembaga sosial dan politik yang ada.

Kaum anarkis juga aktif di Cina Selatan. Di Guangzhou, sekolah adat anarkisme dibentuk di sekitar revolusioner karismatik Liu Shifu, yang lebih dikenal dengan nama adopsi Shifu. Pada tahun 1912, Shifu mendirikan Cock-Crow Society, yang majalahnya, People’s Voice, adalah organ utama anarkisme Cina pada tahun 1910. Meskipun bukan seorang pemikir yang orisinal, Shifu adalah ekspositor yang terampil dalam pengajaran anarkis. Pertukaran polemiknya dengan pemimpin sosialis Jiang Khangu membantu mempopulerkan anarkisme sebagai “sosialisme murni” dan membedakannya dari aliran lain dalam pemikiran sosialis.

 

Anarkisme di Vietnam dan Korea

Gagasan anarkis memasuki Vietnam melalui kegiatan pemimpin nasionalis Vietnam awal, Phan Boi Chau. Phan, yang berperang melawan pemerintahan kolonial Prancis dalam dua dekade pertama abad ke-20. Phan dikenalkan ke anarkisme oleh para intelektual Cina di Tokyo pada tahun 1905-1909. Meskipun Phan sendiri bukan seorang anarkis, pemikirannya mencerminkan nilai-nilai anarkis, terutama pemikirannya mengenai anti-imperialisme dan “aksi langsung”. Setelah Revolusi Tiongkok pada tahun 1911, Phan pindah ke Cina Selatan, bergabung dengan beberapa organisasi yang memeluk atau dipengaruhi oleh anarkisme, termasuk Worldwide League for Humanity. Dia juga menerima saran dan dukungan keuangan dari Shifu. Pada tahun 1912, dengan bantuan Shifu, ia mendirikan League of the Restoration of Vietnam dan League for the Prosperity of China and Asia, yang bertujuan untuk membangun hubungan antara gerakan revolusioner di Cina dan gerakan di negara-negara jajahan seperti Vietnam, Burma (Myanmar), India dan Korea.

Pada awal 1920-an, radikalis Korea mendirikan masyarakat anarkis di Tokyo dan berbagai lokasi di Cina. Seperti rekan-rekan mereka di Vietnam, mereka secara khusus tertarik pada anarkisme karena anti-imperialisme dan penekanan pada aksi langsung, yang membenarkan perlawanan keras terhadap pemerintah kolonial Jepang. Bagi para pemimpin seperti Shin Chae-Ho, anarkisme adalah alternatif demokratis yang menarik daripada komunisme Bolshevik, yang pada saat itu mengancam akan mengambil kendali atas gerakan radikal di Korea.

 

Kemerosotan anarkisme di Asia Timur

Pada awal 1920-an, anarkisme mengalami kemerosatan di sebagian besar Asia Timur yang tidak akan pulih. Setelah Revolusi Rusia 1917, kaum komunis Bolshevik di Jepang, Cina, Vietnam, dan Korea mendirikan masyarakat revolusioner mereka sendiri, yang pada akhirnya diubah menjadi partai-partai politik bawah tanah, dan mulai bertarung dengan kaum anarkis untuk mendapatkan pengaruh dalam gerakan buruh. Dihadapkan dengan kemampuan organisasi Bolshevik yang unggul dan dukungan finansial yang mereka terima dari Uni Soviet yang baru dibentuk, para anarkis hanya dapat melawan dengan ala kadarnya dan dengan cepat teratasi. Pada 1927, anarkis Cina mencurahkan sebagian besar energinya untuk pertempuran yang tidak akan mereka menangkan ini, kadang-kadang bersamaan dengan unsur-unsur reaksioner dalam Kuomintang (Partai Nasionalis) yang terstruktur dengan longgar. Di Jepang, aktivitas anarkis mengalami kebangkitan singkat pada pertengahan 1920-an di bawah Hatta Shuzo, yang merumuskan doktrin anarkisme “murni” yang bertentangan dengan pengaruh Marxis. Suatu periode konflik antara kaum anarkis yang murni dan anarkis yang berorientasi marxis berakhir pada awal 1930-an, ketika semua bentuk radikalisme dihancurkan oleh pemerintah militer.

Meskipun kaum anarkis di Cina secara politis tidak relevan setelah awal 1920-an, mereka terus bekerja pada revolusi sosial dalam pendidikan dan budaya. Penulis Ba Jin menulis novel dan cerita pendek dengan tema anarkis yang sangat populer di Cina pada 1930-an dan 1940-an, dan Ba ​​dipilih sebagai organisasi sastra dan budaya utama setelah kemenangan komunis dalam Perang Sipil Tiongkok (1945-1949). Pada tahun 1927, sekelompok anarkis Paris membantu mendirikan Universitas Buruh yang berumur pendek di Shanghai, yang mempraktikkan ide-ide anarkis dalam menggabungkan kerja balik meja dengan kerja lapangan. Ide-ide ini bertahan lama setelah gerakan anarkis itu sendiri menghilang, mempengaruhi perdebatan mengenai kebijakan ekonomi dalam pemerintahan komunis pada dekade-dekade setelah 1949.


[Penerjemah: Blocknroll.]

‘Apa itu Ateis?’ – Sylvain Maréchal

 

Ambil Saja via Sini, Nggak Usah Sungkan…

 

_

 

Lebaran terjadi lagi. Selamat mengawal Syawal 1441 Hijriyah.

Maka dengan momen itu, dihantarkanlah kado spiritual ini. Ya, ini merupakan kado spiritual bagi siapa saja jika pemikirannya jernih & berjiwa fitri. Tak peduli ateis, beragama, atau percaya makhluk seabstrak apa pun untuk disembah, asal kamu tidak menafikan keliaran nalar serta tidak menggurui orang-orang yang perutnya lapar, kamu layak membaca pamflet spiritual ini.

Tak bisa dipungkiri, ateis kerap mengandalkan nalarnya untuk merasionalisasi segala hal untuk meniadakan tuhan atau malah mencipta “tuhan”-nya sendiri. Dan itu memang fakta. Namun di balik pemujaan akal rasionalnya, ateis-ateis juga memiliki beban moral—yang kadang juga emosional. Terbukti lewat pamflet ini, Sylvain Maréchal, penganjur moral ateisme, menuliskan tata laku menjadi ateis yang bijaksana dalam menghidupi dirinya.

Pamflet ini tetap bukanlah kado moralis. Pamflet ini hanyalah pengantar yang bisa membujukmu untuk menghidupi hidup meskipun jerat “zaman tontonan” erat merangkulmu di dunia maya. Maka silahkanlah tonton saja para ateis dan agamawan yang berkiprah debat keceng-kecengan via online terasa bingar menyalakan ujaran-ujaran picik serta ke-baper-an diri mereka masing-masing. Karena zaman ini zaman tontonan, jangan lupa asup isi kado bermaksud spiritual ini. Jangan lekas tumbang, karena hampir semua hari adalah hari raya.

Salam, takbir.

Kritik Stirner tentang Liberalisme

Download Disini Cuk !!

Download di sini, Cuk !

Salah satu masalah sentral dalam teori politik kontemporer adalah pertanyaan apakah liberalisme netral atau tidak, tetap berkaitan dengan konsepsi normatif tentang kehidupan yang baik. Bagi para filsuf liberal seperti Rawls, prinsip ‘keadilan sebagai keadilan’ tidak mengacu pada asumsi moral menyeluruh atau konsepsi universal tentang kebaikan, tetapi hanya pada kerangka netral yang memungkinkan untuk bersaing konsepsi kehidupan yang baik. Liberalisme netral berusaha untuk mencapai konsensus tentang kondisi untuk ‘masyarakat yang tertata dengan baik’ sementara pada saat yang sama memungkinkan pluralitas identitas dan perspektif agama, filosofis, dan moral yang ditemukan dalam masyarakat kontemporer (lihat Rawls 1996: 35-40). Untuk Rawls, dengan kata lain, hak-hak netral diberikan prioritas di atas konsepsi yang sarat nilai. Di lain pihak, kaum komunitarian berkeberatan bahwa gagasan yang seharusnya netral tentang hak-hak individu ini mengandaikan jenis subjektivitas dan serangkaian kondisi tertentu yang memungkinkan. Dengan kata lain, hak tidak dapat dilihat sebagai abstrak dan netral – hak tidak dapat dilihat di luar bentuk subyektifitas tertentu dan asosiasi politik yang memunculkannya. Sebagai contoh, individu otonom, yang memiliki hak yang menjadi dasar liberalisme hanya dimungkinkan dalam suatu tipe masyarakat tertentu dan tidak dapat dianggap terpisah dari ini (lihat Taylor, 1985: 309). Maka, menurut beberapa komunitarian, kita harus menolak valorisasi liberal atas hak-hak individu dan kembali ke gagasan tentang kebaikan bersama dan nilai-nilai normatif universal.

Namun, bagaimana jika orang menyarankan bahwa oposisi antara liberalisme dan komunitarianisme itu sendiri bermasalah dan perlu didekonstruksi? Misalnya, jelas bahwa gagasan liberal tentang hak-hak abstrak tidak dapat dipertahankan tanpa mempertimbangkan kondisi sosial dan bentuk-bentuk subjektivitas yang memungkinkannya. Liberalisme mengandaikan bentuk-bentuk subjektivitas tertentu – misalnya individu yang otonom dan rasional – tanpa mengakui kondisi yang seringkali menindas yang menjadi dasar subjektivitas ini. Namun, ini tidak berarti bahwa kita harus berpihak pada komunitarian dan mengabaikan gagasan tentang hak individu dan institusi liberal secara bersamaan. Fakta bahwa hak adalah produk dari wacana, praktik disiplin atau mekanisme ideologis tidak berarti bahwa kita harus sepenuhnya mengabaikan valensi politik mereka. Ini hanya berarti bahwa status mereka selalu bermasalah, bergantung dan tidak dapat diputuskan. Saya akan berpendapat di sini bahwa melalui pertimbangan kritik pemikir Max Stirner dari abad ke 19 tentang liberalisme, kita dapat mendekati pertanyaan tentang batasan hak-hak individu dengan cara baru.

Stirner mengembangkan kritik radikal terhadap liberalisme berdasarkan interogasi terhadap landasan dan fondasi esensialisnya. Dia mengeksplorasi pertanyaan tentang bagaimana dan dalam kondisi apa subjek liberal terbentuk, dan masalah apa yang muncul pada teori liberal. Sementara liberalisme seolah-olah merupakan filosofi yang membebaskan manusia dari mistifikasi agama dan absolutisme politik, menurut Stirner, ini adalah penundukan individu pada teknologi disiplin dan normalisasi baru. Memang, Stirner melihat universalisme rasional abstrak dan netralitas politik liberalisme hanya sebagai bentuk baru keyakinan agama, kekristenan diciptakan kembali dalam hal cita-cita Pencerahan. Cita-cita ini, apalagi, menutupi serangkaian strategi yang dirancang untuk mengecualikan perbedaan individu. Bagi Stirner, gagasan tentang hak individu tidak ada artinya tanpa mempertimbangkan hubungan kekuasaan yang menjadi dasarnya.

 

Fumiko Kaneko: Perjuangan Nihilistik dan Kesepian

Belum lama ini, tayang sebuah film yang disutradarai oleh Lee Joon-Ik, film yang berjudul Anarchist from Colony tersebut sedikitnya berhasil menarik perhatian para penggemar film, terutama para anarkis. Film berdurasi 129 menit yang diangkat dari kisah nyata itu menceritakan perjuangan seorang anarkis bernama Park Yeol dan kawan-kawannya yang berasal dari Korea dan tinggal di Jepang, di masa di mana Korea berada di bawah kendali Jepang. Mereka bersama-sama merencanakan sebuah misi rahasia, tak lain, menerror kekaisan Jepang.

Film tersebut juga dibungkus dengan kisah romansa antara Park dan seorang nihilis asal Jepang yang bernama Fumiko Kaneko. Ketika kekacauan pecah pasca gempa bumi Kantō pada 1 September 1923, terjadi berbagai kasus pembantaian terhadap orang-orang Korea, dan mereka yang dianggap sebagai pemberontak ditangkap secara acak. Satu hari setelah gempa bumi hebat tersebut, Park dan kawan-kawannya ditangkap dan di penjara. Kemudian, ketika diinterogasi, Park mengaku kepada pihak keamanan Jepang bahwa ia seorang diri yang merencanakan semua terror, sehingga membuat kawan-kawannya dibebaskan. Tapi tidak dengan Fumiko. Gadis yang kala itu berusia 26 tahun justru mengatakan sebaliknya kepada pihak keamanan, ia mengaku bahwa ia mengetahui dan menyusun semua rencana terror bersama Park, pernyataan tersebut membuat Fumiko tidak dibebaskan.

Tapi, tulisan ini bukanlah sebuah review film, bukan juga suatu fokus terhadap keberanian Park Yeol yang individualistik sekaligus altruis—sejak ia menyadari bahwa revolusinya hanya akan berhasil dengan kematiannya yang akan membuat dunia menyadari betapa kejamnya kekaisaran Jepang, melainkan tulisan yang akan membuat kita sedikit lebih jauh mengenal Fumiko Kaneko.

Fumiko Kaneko lahir di Yokohama pada 25 Januari 1903. Ia lahir dari seorang Ayah mantan Polisi alkoholik yang kasar, dan Ibunya adalah seorang buruh. Kedua orang tuanya tidak menikah secara legal, sehingga Fumiko menjadi seorang anak yang tak terdaftar, hal tersebut juga membuat Fumiko “tak pantas” menyandang nama Saeki sebagai nama keturunan Ayahnya, Fumikazu Saeki, sehingga kemudian Fumiko diberi nama akhir Kaneko, dari Ibunya, Kikuno Kaneko. Karena status dirinya sebagai anak yang tak terdaftar tersebut jugalah yang akhirnya membuat Fumiko tidak memiliki akses terhadap pendidikan formal dan seakan-akan dikucilkan oleh masyarakat.

Setelah Ayahnya pergi, Ibunya sempat beberapa kali menjalin hubungan dengan lelaki lain dengan harapan memperbaiki keadaan. Tapi hubungan tersebut tak satu pun ada yang berjalan baik, dan akhirnya mereka tetap hidup dalam kemiskinan. Ketika frustasi Ibunya memuncak, ia tak lagi memiliki solusi lain selain berencana menjual Fumiko kepada prostitusi. Tapi rencana itu batal setelah Ibunya mengetahui bahwa Fumiko akan dikirim ke wilayah lain di Jepang.

Masa-masa sulit berlalu, akhirnya Ibunya menikah lagi dan mengirim Fumiko ke Korea untuk tinggal di Bugang bersama Neneknya. Fumiko cukup senang dengan keputusan tersebut, karena Neneknya berjanji akan mengadopsinya dan memberikan pendidikan yang baik untuknya. Tapi kemudian tak banyak yang berubah, ia tak pernah benar-benar diadopsi dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Bahkan setelah beberapa tahun, Fumiko cenderung kembali dikucilkan karena ia disebut tidak pantas menyandang nama Iwashita dari Neneknya. Tak hanya itu, Nenek dan Bibinya juga seakan-akan sekadar menjadikan Fumiko sebagai pembantu rumah tangga.

Fumiko masih bisa sedikit merasa senang, karena setidaknya ia bisa mengenyam pendidikan formal di Korea. Tapi hidup tak selalu berjalan sesuai apa yang diharapkan. Awalnya, Fumiko dijanjikan untuk mendapat pendidikan yang baik dan layak agar kelak ia bisa masuk perguruan tinggi, tapi kemudian Fumiko hanya diberi kesempatan sekolah hingga bangku Sekolah Menengah Pertama, ia juga dilarang untuk membaca atau mempelajari hal lain yang tak ada hubungannya dengan pelajaran di sekolah. Setelah masa sekolahnya berakhir, Fumiko menghabiskan waktu untuk mengerjakan berbagai pekerjaan rumah dan seringkali mendapatkan kekerasan dari Nenek dan Bibinya yang pada akhirnya membuat ia terkadang berpikir untuk bunuh diri.

Pengalamannya di Korea tersebut, tercatat di dalam sebuah memoar yang ia tulis ketika ia di penjara, Fumiko menyebut masa-masa di Korea sebagai salah satu masa tersulit dalam hidupnya.

Fumiko tak pernah benar-benar merasa bahagia di Korea, selain perlakuan kasar dari Nenek dan Bibinya, penderitaan yang dialami Fumiko juga ditambah dengan rasa kesepian karena ia dilarang bergaul (di sekolah, Fumiko cenderung lebih senang bergaul dengan lelaki, dan Neneknya tak menyukai itu). Jadi, ia menyimpan semua rasa sakit dan penderitaannya sendiri. Ya, hanya ia dan dirinya.

Pada Maret 1919, tepat sebelum Fumiko dikirim kembali ke Jepang, orang Korea mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut kemerdekaan bangsanya. Sedikitnya 2000 orang Korea kehilangan nyawa dan 20.000 lainnya ditangkap. Akibat perlakuan kasar yang ia terima dari orang tua dan Neneknya, serta pengamatannya terhadap pemerintahan militer Jepang yang keras di Korea—kemudian membentuk pemikiran Fumiko terhadap segala bentuk otoritas, ia berjanji akan terus memberontak dan melawan semua orang dan institusi yang otoriter.

Dari kehidupan yang sulit, kesepian, dan kesengsaraan tersebutlah yang membentuk kepribadiannya menjadi kuat, yang pada akhirnya membuat ia mengamini filsafat nihilistik dan jalan hidup anarkis.

Akhirnya Fumiko kembali ke Jepang, dan pergi ke Tokyo pada tahun 1920 setelah menolak permintaan keluarganya untuk menikah sesuai tradisi. Di Tokyo, ia hidup dan berjuang sendiri, melanjutkan sekolahnya sekaligus bekerja sebagai gadis penjual koran, seperti yang juga ia cantumkan dalam memoarnya, penjual sabun, dan pelayan. Selain nihilisme dan anarkisme yang membentuk pandangan Fumiko terhadap sistem dan kehidupan secara umum, ia juga menolak berbagai tradisi patriarkis di Jepang dengan memilih untuk lebih mempelajari matematika, bahasa Inggris dan Cina klasik, lalu masuk sekolah kedokteran serta memilih sekolah yang lebih dominan dihadiri oleh lelaki.

Feminismenya terungkap saat ia menyatakan bahwa ia ingin memenangi kompetisi akademis dengan para lelaki. Meskipun pendidikan formalnya tidak jelas, Fumiko memang orang yang cerdas. Ia membaca secara ekstensif dan banyak terinspirari oleh gagasan Bergson, Herbert dan Hegel. Fumiko juga sangat terkesan oleh para pemikir nihilis dan individualis seperti Nietzsche, Stirner dan Artsybashev. Fumiko percaya bahwa menyatakan diri adalah perlawanan politik terbaik, bahwa anarki bisa menjadi individualistik, bahwa masyarakat hanyalah benalu yang menggerogoti di mana selalu yang kuat melahap yang lemah—dan bahwa gerakan politik tidaklah memberikan kelegaan apa pun. “Apakah itu revolusi, jika hanya mengganti satu kekuasaan dengan yang lainnya?” Tulisnya dalam memoarnya.

Satu-satunya tindakan yang layak, Fumiko berpikir, adalah untuk “mempertaruhkan nyawa(nya)” pada pemberontakan melawan otoritas. Di penjara, ia menulis bahwa kematian adalah kebebasan “jika seseorang memiliki kehendak untuk mati!”

Seperti apa yang sebelumnya ditulis diawal, ketika diinterogasi, Fumiko memberikan pernyataan yang justru seakan-akan bertentangan dengan pernyataan Park, yang membuat Fumiko tak dibebaskan dari penjara. Tapi itulah yang ia mau, ia tetap ceria ketika pertama kali ditahan pada Juli 1925. Bahkan ia masih ceria ketika ia dan Park dituduh melakukan pengkhianatan tinggi dengan rencana merobohkan kekaisaran Jepang, tuduhan tersebut diberikan tanpa bukti yang jelas, dibuat hanya untuk mencari pembenaran atas pembunuhan orang-orang Korea dan menunjukan bahwa orang Korea yang berbahaya adalah mereka yang berada di luar negeri.

Fumiko dan Park menghabiskan masa-masa di penjara dengan berbagai permintaan aneh, seperti kekeuh ingin saling mengirim surat dan di foto menggunakan pakaian tradisional Jepang di ruang interogasi. Fumiko sangat nyaman berada di sisi Park, ia tak lagi merasa kesepian, sehingga ia akan melakukan apa pun agar ia tetap bersama Park. Di masa-masa itu jugalah Fumiko menulis memoarnya dengan pena dan kertas yang ia dapat dengan sedikit memohon kepada pihak keamanan.

Hari demi hari berlalu, dan pada 25 Maret 1926, untuk pertama kalinya, Fumiko semakin dekat dengan apa yang ia sebut kebebasan. Pada hari itu, Fumiko dan Park akhirnya dijatuhi hukuman mati. Walau pun banyak media asing dan pengacara yang membela mereka, mereka tak menginginkan itu, mereka menganggap hukuman mati tersebut sebagai opsi terbaik.

Park memiliki perasaan yang sama, Park ingin tetap bersama dengan Fumiko. Park yang juga kesepian, sakit dan hanya tinggal di rumah kawan-kawannya yang berbeda hampir setiap malam, seperti puisinya yang berjudul “Anjing Liar”, merasakan koneksi yang lain ketika ia mengenal Fumiko. Itulah yang membuat Park, sebelum hukuman mati dilakukan, meminta agar nantinya Fumiko dimakamkan di pemakaman keluarganya di Korea, agar setidaknya, Fumiko merasa memiliki keluarga.

Tapi, 10 hari kemudian, semuanya berubah, hukuman mati dibatalkan untuk menjaga citra kekaisaran Jepang yang terkenal adil dan bijaksana. Dengan berat, Park menerima keputusan itu, tapi Fumiko menolaknya dan berkata “Kau mempermainkan kehidupan orang-orang, membunuh atau membiarkan hidup sesuai keinginanmu sendiri. Apakah aku harus dibuang sesuai dengan keinginanmu juga?”

Keduanya kemudian dikirim ke penjara di Utsunomiya, tapi mereka tak pernah lagi bertemu dan bahkan tak lagi saling mengirim surat. Fumiko kembali ke kesepian yang dulu ia rasakan, ia menjadi pendiam dan selalu menolak untuk melakukan pekerjaan yang ditugaskan di penjara. Tapi sekitar tiga bulan kemudian, ia meminta agar ia diberi izin untuk bekerja menenun tali seperti tahanan lainnya. Keesokan paginya, pada 23 Juli 1926, ia ditemukan telah menggantung dirinya dengan tali yang telah ditenunnya. Walau ada beberapa hal mencurigakan di kematian Fumiko, para dokter yang melakukan otopsinya merasa tersentuh dan kagum, “tindakan bunuh diri yang direncanakan dengan cermat, dan tenang.”

Park terpukul atas kematian Fumiko, ia juga sedikit merasa kecewa karena Fumiko tak menepati janjinya untuk mati bersama. Park menjalani masa-masa hukuman dengan sulit dan seringkali melakulan mogok makan. Ia kemudian dibebaskan setelah Perang Dunia II berakhir.

Fumiko dan Park ketika di foto menggunakan pakaian tradisional di ruang interogasi ketika mereka berdua ditahan atas tuduhan pengkhianatan terhadap Kekaisaran Jepang, saat itu juga Park mengajukan pernikahan legal dengan Fumiko sesaat setelah ancaman hukuman

Hingga kematiannya, kesepian tak pernah benar-benar meninggalkan Fumiko, seakan-akan menjadi teman yang selalu ada di setiap fase kehidupan yang ia jalani. Walau pun sempat mengenal Park dan menemukan sedikit alasan untuk tetap hidup, ternyata kehidupan selalu memberi kejutan yang tak terduga. Harapan-harapan hancur bahkan sebelum rencana selesai dibuat dengan sempurna, itulah yang terjadi kepada Fumiko. Masa kecil penuh kekerasan dan belenggu kemiskinan, masa remaja yang diawasi dan dibatasi, hingga ia dewasa pun ia tak pernah benar-benar memiliki keadilan setelah keinginannya untuk tetap bersama Park hingga mati harus pupus oleh pihak keamanan Jepang yang sewenang-wenang.

Fumiko Kaneko, seorang gadis yang tak membiarkan dirinya mempercayai siapa pun atau apa pun selain egonya sendiri. Dan sumpah, keinginan, harapan, atau apapun itu; tidaklah selalu menjadi kenyataan. Mungkin ketika di ruang sidang ia berpikir bahwa Park akan memilih untuk tetap hidup. Mungkin hal itu meyakinkannya tentang apa yang ia curigai selama ini: bahwa hanya ada dirinya sendiri, dan akan selalu sendiri.

Di penjara sebelum Fumiko ditemukan bunuh diri, ia menulis puisi. Salah satunya ditemukan setelah ia mati:

“Ganja kecil itu melilit di jariku. Ketika aku menariknya dengan lembut, itu terdengar agak samar, “Aku ingin hidup,” Berharap untuk tak tertarik keluar, menggali tumitnya sendiri. Aku merasa sedih, sangat sedih. Apakah ini akhir dari perjuangan yang pahit untuk hidup? Aku tertawa terbahak-bahak.” 

***

Tulisan ini juga sedikit merangkum beberapa informasi dari WikipediaArchieve dan memoar Fumiko yang berjudul The Prison Memoirs of a Japanese Woman.

 


Ditulis oleh: Randy Radomski


 

Jacques Rancière dan Egaliter Anarkis

Gambar ini adalah sebuah Representasi melawan demokrasi ala Jacques Rancière

 

*)Ditulis oleh Nonzerosum. Seorang vegan dari Wales.

_

Jacques Rancière, di sisi lain, mengusulkan gagasan politik radikal yang sangat berbeda dengan politik orang kebanyakan. Baginya, politik muncul dari ruang yang retak dan bukan ruang yang halus; sesuatu yang memecah hubungan sosial di luar diri sendiri daripada menjadi imanen.

Gagasan Rancière tentang politik juga kuat dan kadang-kadang mejadi gagasan yang paralel dengan anarkisme, serta memiliki implikasi penting untuknya, seperti yang akan saya tulis. Memang, Rancière kadang-kadang menggambarkan pendekatannya pada politik sebagai “anarkis” dengan contoh, ia melihat demokrasi yang baginya tidak ada hubungannya dengan agregasi preferensi atau kumpulan institusi tertentu, tetapi lebih merupakan bentuk egaliter dari politik, di mana semua hubungan sosial hierarkis tidak cocok sebagai “pemerintahan”.

Selain itu, seluruh proyek politiknya lahir untuk mengganggu tatanan hierarki dan semua bentuk otoritas yang ada, untuk menggeser posisi kekuasaan dari masyarakat yang dipimpin, didominasi dan dikuasai. Segala bentuk politik pelopor (vanguardism), bagi Rancière, hanyalah gagasan elitisme dan penghinaan bagi masyarakat biasa. Memang, masyarakat “biasa” ini sebenarnya luar biasa; mampu membebaskan diri mereka sendiri tanpa campur tangan partai revolusioner.

Kita dapat melihat gagasan ini khususnya dalam penelitian Rancière tentang guru sekolah Prancis abad ke-19 yang bernama Joseph Jacotot, yang mengembangkan metode pendidikan anarkis di mana ia mampu mengajar siswa dengan gaya bahasa yang berbeda dari gaya bahasa pendidik lainnya, dan di mana siswa berada dapat menggunakan metode ini untuk mengajar diri mereka sendiri dan orang lain. Penemuan bahwa seseorang tidak perlu menjadi ahli dalam subjek atau bahkan memiliki pengetahuan nyata tentang hal apapun untuk mengajarkannya, melemahkan postur penguasaan dan otoritas intelektual; postur bahwa semua bentuk politik yang dilembagakan didasarkan pada otoritas politisi profesional, ahli, teknokrat, ekonom; mereka yang mengaku memiliki pengetahuan lebih yang tidak dimiliki orang lain.

Semua bentuk dominasi politik dan sosial bersandar pada ketimpangan kecerdasan yang disyaratkan, melaluinya hierarki dinaturalisasi dan posisi subordinasi diterima. Jika seperti yang ditunjukkan dalam percobaan Jacotot, sebenarnya ada kesetaraan kecerdasan dan gagasan bahwa tidak ada yang secara alami lebih atau kurang cerdas daripada orang lain, bahwa setiap orang sama-sama mampu belajar dan mengajar diri mereka sendiri; ini secara fundamental membahayakan prinsip inegaliter yang tatanan sosial didirikan. Bentuk emansipasi intelektual ini mengisyaratkan adanya politik egaliter yang mendalam, suatu politik yang tidak hanya mencari kesetaraan, tetapi juga yang lebih penting didasarkan pada fakta absolut kesetaraan. Dengan kata lain, politik, bagi Rancière dimulai dengan fakta kesetaraan: Kesetaraan bukan tujuan akhir, tetapi titik awal, anggapan untuk dipertahankan dalam setiap keadaan.

Selanjutnya, emansipasi bukanlah sesuatu yang dapat dicapai untuk rakyat, itu harus dicapai oleh rakyat, sebagai bagian dari proses emansipasi diri di mana ada pengakuan oleh individu atas kesetaraan orang lain.

Jelas, ide-ide pembebasan diri, otonomi, dan destabilisasi hierarki sosial dan politik ini melalui pengakuan dan penegasan kesetaraan mendasar dari semua makhluk yang berbicara, memiliki kesamaan yang jelas dengan anarkisme. Pemikiran Rancière adalah sejenis anarkisme, di mana dominasi dan “hasrat untuk ketidaksetaraan” yang menjadi alasannya untuk dipertanyakan pada tingkat yang paling mendasar. Namun, saya akan menyarankan bahwa konsepsi politik Rancière juga memungkinkan kita untuk memikirkan kembali aspek-aspek tertentu dari anarkisme dan membawanya ke arah teoretis dan politis yang baru. Yang sentral di sini adalah penataan kembali anarkisme tertentu; tidak lagi di sekitar pertentangan antara masyarakat dan negara, tetapi antara “politik” dan “polisi”. Dengan kata lain, antagonisme sentral tidak begitu banyak antara dua entitas, tetapi antara dua mode yang berbeda berkaitan dengan dunia.

“Polisi” mengacu pada rasionalitas “penghitungan” yang menemukan tatanan sosial yang ada; sebuah logika yang memisahkan dan mengatur ruang sosial; menugaskan berbagai identitas pada tempat mereka dalam hierarki sosial. Dalam hal ini, polisi akan memasukkan fungsi-fungsi koersif dan represif negara yang biasa, tetapi juga mengacu pada gagasan yang jauh lebih luas tentang organisasi dan regulasi masyarakat, distribusi tempat, dan peran. Dengan kata lain, dominasi dan hierarki tidak dapat terbatas pada negara, tetapi pada kenyataannya terletak di semua jenis hubungan sosial yang memang dominasinya adalah logika tertentu dari organisasi sosial, di mana orang-orang ditempatkan pada peran tertentu seperti “pekerja”, atau “penjahat”, atau “imigran ilegal”, atau “perempuan”.

Politik, di sisi lain adalah proses yang mengacaukan logika tatanan sosial ini; yang memecah ruang sosial melalui permintaan oleh yang dikeluarkan untuk dimasukkan. Bagi Rancière, politik muncul dari perselisihan mendasar atau “ketidaksepakatan” (mesentente) antara kelompok tertentu yang dikucilkan dari tatanan sosial yang ada: kelompok sosial yang dikucilkan ini tidak hanya menuntut agar suaranya didengar dan menyatakan bahwa ia dimasukkan dalam tatanan sosial, tetapi lebih tepatnya, ia mengklaim melakukan hal itu untuk mewakili seluruh masyarakat.

Jadi, yang penting bagi politik menurut Rancière, adalah bahwa bagian yang dikucilkan tidak hanya menuntut untuk dihitung sebagai bagian dari keseluruhan sosial, tetapi juga mengklaim bahwa ia benar-benar mewujudkan keseluruhannya. Rancière menunjukkan cara bahwa di Yunani kuno, demo atau “masyarakat”; orang miskin yang tidak memiliki tempat tetap dalam tatanan sosial, menuntut untuk diikutsertakan, menuntut agar suaranya didengar oleh tatanan aristokratis dan dengan melakukan itu, diklaim mewakili kepentingan universal seluruh masyarakat. Dengan kata lain, ada semacam substitusi metonimis dari bagian untuk keseluruhan bagian mewakili perjuangannya dalam hal universalitas: kepentingan khususnya direpresentasikan sebagai identik dengan kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Dengan cara ini, tuntutan sederhana untuk dimasukkan, menyebabkan kehancuran atau dislokasi dalam tatanan sosial yang ada: bagian ini tidak dapat dimasukkan tanpa mengganggu logika tatanan sosial yang didasarkan pada sebuah pengecualian.

Untuk memberikan contoh kontemporer: perjuangan para imigran “ilegal” mungkin kelompok yang paling dikucilkan saat ini untuk mendapat tempat dalam masyarakat agar status mereka dilegitimasi; akan menciptakan semacam kontradiksi dalam tatanan sosial yang menolak untuk memasukkan atau bahkan mengakui mereka; yang menjanjikan hak-hak yang sama dan demokratis untuk semua orang namun menolak mereka untuk kelompok khusus ini. Dengan cara ini, tuntutan “ilegal” untuk dihitung sebagai “warga negara” menyoroti ketidakkonsistenan situasi di mana hak-hak demokratis universal dijanjikan kepada semua orang tetapi dalam praktiknya hanya diberikan kepada sebagian orang; ini menunjukkan bahwa pemenuhan janji demokratis akan hak-hak universal paling tidak tergantung pada pengakuan mereka juga sebagai warga negara dengan hak yang sama. Oleh karena itu, tahap diskursif yang menjadi dasar politik terjadi adalah ketidakkonsistenan dalam struktur universalitas antara janjinya dan aktualisasinya.

Untuk memberikan contoh lebih lanjut: protes yang terjadi di Perancis pada tahun 2004 tentang larangan jilbab di sekolah menunjukkan ketidakkonsistenan situasi di mana, di satu sisi, semua orang secara resmi diakui memiliki hak yang sama sebagai warga negara Republik Perancis, sementara pada di sisi lain, undang-undang diperkenalkan atas nama ideal kesetaraan Republikan yang jelas mendiskriminasi dan menargetkan minoritas tertentu. Karena itu adalah suatu kesalahan untuk mengklaim, seperti yang dilakukan oleh anggota parlemen yang konservatif dan sosialis, bahwa protes dan tindakan perlawanan terhadap hukum jilbab adalah anti-Republik: sebaliknya, para wanita Muslim yang memprotes larangan jilbab melambaikan warna gelap dan memegang plakat dengan kata-kata Liberté, Egalite, Fraternité.

Dengan mengidentifikasi cita-cita Republik, mereka menyoroti dengan cara yang sangat efektif; fakta bahwa mereka dikeluarkan dari cita-cita ini. Pesan mereka adalah bahwa mereka percaya pada Republik tetapi Republik tidak percaya pada mereka. Di sini kita melihat bagian yang dikecualikan mengklaim mewakili universalitas ideal egaliter melalui tuntutan sederhana untuk dihitung. Jadi bagi Rancière, “politik ada kapan pun jumlah bagian dan partai masyarakat terganggu oleh prasasti bagian dari mereka yang tidak memiliki bagian”.

Sementara itu mungkin tampak bahwa permintaan untuk dimasukkan ke dalam tatanan sosial, hukum, dan politik yang ada bukanlah strategi anarkis; intinya adalah bahwa permintaan untuk inklusi karena ia dibingkai dalam hal universalitas, bagian yang dalam sangat pengecualian, mengklaim sebagai keseluruhan, menyebabkan dislokasi perintah ini. Dalam pengertian ini, politik radikal dewasa ini mungkin mengambil bentuk gerakan massa yang membangun diri mereka sendiri di sekitar kelompok-kelompok yang terpinggirkan dan tersingkirkan, seperti kaum miskin, atau imigran “ilegal”. Tentu saja ini tidak berarti bahwa gerakan massa tidak boleh peduli dengan isu-isu global umum seperti lingkungan; tetapi memobilisasi di sekitar struktur dominasi dan eksklusi tertentu dan di sekitar mereka yang paling terpengaruh olehnya, dapat menjadi bentuk perlawanan yang efektif.

Namun, kepentingan teoritis untuk anarkisme dari pemahaman Rancière tentang politik terletak pada penjelasannya tentang subjektivitas politik. Bagi kaum anarkis khususnya kaum anarkis klasik, subjek memberontak sebagian karena seperti yang akan dikatakan Bakunin, ada kecenderungan alami dan spontan untuk memberontak, tetapi lebih tepatnya, karena subjek secara intrinsik dan organis bagian dari masyarakat, dan masyarakat dikondisikan oleh esensi tertentu yang rasional dan alami yang terkuak ke arah revolusi dan emansipasi. Dengan kata lain, anarkisme tidak hanya didasarkan pada visi emansipasi manusia dan kemajuan sosial tertentu, tetapi juga pada gagasan rasionalitas sosial yang bergerak menuju arah itu. Gagasan ini dapat dilihat dalam pemahaman materialis Bakunin tentang hukum alam dan sejarah hukum yang dapat diamati secara ilmiah (Bakunin, 1953: 69) atau keyakinan Kropotkin bahwa ada kecenderungan bawaan dan evolusi terhadap mutualisme dalam semua makhluk hidup, atau, dalam konsepsi Murray Bookchin; potensi “keutuhan” yang merupakan pusat idenya tentang ekologi sosial.

Apa yang kami temukan di sini adalah gagasan tentang kemajuan sosial, baik didorong oleh dialektika atau hukum-hukum alam atau sejarah. Yang sentral di sini adalah pandangan bahwa subjek manusia tidak hanya pada dasarnya jinak (bagi Kropotkin, manusia memiliki kecenderungan alami terhadap kerja sama) tetapi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tatanan sosial. Subyektivitas politik radikal, bagi kaum anarkis, adalah ekspresi dari sosialitas yang melekat.

Pandangan Rancière tentang subjektivitas politik akan sedikit berbeda dari ini. Tidak ada kecenderungan alami atau sosial terhadap revolusi; alih-alih, yang penting adalah ketidakpastian dan kontingensi politik. Selanjutnya, subjek politik tidak didasarkan pada konsep esensialis sifat manusia; melainkan subjek muncul dengan cara yang tidak dapat diprediksi melalui pecahnya peran dan identitas sosial yang tetap. Poin terakhir ini penting. Bagi Rancière, subjektivitas politik bukanlah penegasan atau ekspresi dari sosialitas bawaan, tetapi lebih merupakan perpisahan dengan sosial. Ini adalah semacam de-subyektifikasi atau “dis-identifikasi”  – “penghapusan dari sifat alami tempat” – di mana seseorang menjauhkan diri dari peran sosial normal seseorang:

Subjektivitas politik memaksa mereka keluar dari kejelasan seperti itu dengan mempertanyakan hubungan antara siapa dan apa dalam redundansi yang tampak dari pengajuan keberadaan […] ‘Pekerja’ atau lebih baik lagi ‘proletar’ adalah subjek yang mengukur masalah tersebut. kesenjangan antara bagian pekerjaan sebagai fungsi sosial dan tidak memiliki bagian dari mereka yang melaksanakannya dalam definisi kesamaan masyarakat.

Alih-alih subjektivitas politik muncul sebagai imanen dalam masyarakat, adalah sesuatu yang dalam arti tertentu  berasal dari “luar”, bukan dalam hal eksterior metafisik, tetapi dalam hal proses pelepasan dari posisi subjek yang mapan dan identitas sosial.

‘Bertahan dari Virus’ – Jurnal Bodat

_

((Naskah ‘Bertahan dari Virus’))

 

Belakangan ini, dunia sedang dilanda wabah virus corona lewat pandemi barunya—Covid-19. Beberapa otoritas pemerintahan mulai terlihat timpang dalam mengatasi kasus tersebut, sementara para warga sipil sebagiannya terlihat amat khawatir dan sebagian lainnya cenderung terlalu berharap—bahkan marah—atas kinerja pemerintahan dalam menangani.

Pandemi virus bisa menyebabkan krisis dan kelumpuhan kuasa politik & ekonomi. Berbicara tentang krisis, sebagai pihak yang paling dirugikan; warga sipil non-penguasa, sebaiknya saling membantu dengan berbagai cara.

Naskah ini bisa dipakai sebagai gambaran mula dari peta politik warga sipil supaya mandiri menghadapi krisis. Silahkan unduh file-nya pada tautan di atas.