Kapitalisme Cinta

Di era yang penuh dengan materi saat ini, sepertinya amat sulit untuk bicara tentang cinta. Orang lebih senang untuk membicarakan tentang uang dan kesuksesan. Pertimbangan para gadis pun sekarang jauh lebih kritis. Hal pertama yang menjadi penilaian terkadang adalah pekerjaan, penghasilan, dan apakah pasangannya naik mobil atau tidak. Begitu juga, terkadang pria pun berpikiran demikian.

Inilah yang aku sebut sebagai era kapitalisme cinta; dimana kekayaan dan modal menjadi penentu untuk memperoleh cinta seseorang. Terkadang orang tua juga berpikir demikian; anak perempuannya diarahkan untuk menikah dengan seorang yang mapan, tanpa menanyakan apakah anaknya cinta atau tidak dan apakah keputusan itu tidak melukai hati orang lain.

Maka tak heran, banyak konsenkwensi sosial yang kemudian terjadi; banyak sekali para pemuda yang terkadang putus cinta dan kemudian bunuh diri karena merasa terlecehkan dan merasa hidupnya tidak berharga lagi. Dan memang penghargaan terhadap jiwa manusia semakin menurun; yang dihargai saat ini hanyalah uang dan kekayaan. Kebenaran, perasaan manusia, sudah tidak menjadi penting lagi. Prinsip kebanyakan orang adalah “tidak penting membahagiakan orang lain, yang penting adalah membahagiakan diri sendiri”.

Tidak hanya bunuh diri, perceraian pun meningkat dan semakin banyak kasus kriminal. Manusia seperti kehilangan makna hidup, lupa arti penghormatan dan cinta, lupa akan betapa bernilainya ketulusan dan budi seseorang. Manusia menjadi berorientasi pada materi. Inilah suatu fenomena kapitalisme cinta; dimana cinta dan ketulusan hati manusia hanya dihargai dengan uang dan materi. Suatu fenomena komersialisasi cinta dan perdagangan kemanusiaan.


*)Ditulis oleh: Kvman Al- Bacteria

Kritik & Oto-kritik atas Diri Sendiri

Kartun dengan tajuk “Delusional Hypocrisy” karya Kavehadel/Cartoonmovement.com.

 

Setidaknya, sudah dua tahun lebih saya secara lebih mendalam membaca literatur-literatur anarkisme, dan berusaha mendalaminya. Sebagai seorang remaja labil, dengan segera saja aku mulai tertarik dengan gagasan, ide, serta mimpi-mimpi yang diusungnya. Dan kupikir, ini adalah hal yang sangat wajar. Mengingat bahwa memang kita semua hidup dalam berbagai krisis, yang membuat setiap orang perlu (setidaknya) satu pegangan hidup, berupa ideologi, yang sayangnya, itu semua hampir-hampir tak berguna di hadapan waktu yang terus bergerak. Semuanya ini adalah proses. Tak ada yang pasti, selain kematian. Bahkan, kematian sendiri adalah proses sebelum jasad mulai membusuk dan terlupakan. Tak ada nilai yang pakem. Dan setiap upaya untuk itu adalah kesia-siaan.

Sejak awal, setiap orang yang mulai mengenal anarkisme pasti akan menyadari (baik dari diri sendiri maupun dari pihak luar), bahwa anarkisme itu melampaui segala spektrum politik. Dan sayangnya, banyak dari kita yang gagal memahami, dan justru kita sendiri yang malah memenjarakan apa yang kita perjuangkan, dan justru menempatkannya pada titik ideal yang semu. Padahal, kita sendiri yang sempat mengatakan bahwa anarkisme melampaui segala nilai.

Tak ada lagi idealisme hari ini. Selain itu hanya merupakan pelumas masturbasi bagi mereka yang mengalami krisis identitas. Tak pernah ada yang benar-benar seorang anarkis. Tak ada yang benar-benar punk. Kita semua hanyalah badut yang mencoba menjadi manusia di tengah-tengah tatanan yang mendambakan sebuah tontonan, impian, dan harapan; karena kita hidup dalam keadaan yang terlalu buruk. Mengutip Chekov, harapan adalah musuh utama seorang tawanan.

Dan kita adalah tawanan. Tawanan dari nilai-nilai buatan kita sendiri, karena yang kita mampu hanyalah mengkhayal. Dan setiap sayatan di pergelangan kita adalah apa yang selama ini kita sebut sebagai upaya pembebasan.

Anarkisme itu memuakkan. Semakin kita mengenalinya, maka akan semakin pula kita akan berlari menjauhinya. Pun, dengan ideologi-ideologi lain. Semuanya hanyalah candu. Semuanya menawarkan nilai-nilai lama yang telah membusuk yang direduksi dengan kekuatan zaman. Ia adalah agama baru, dan kita dipaksa tunduk atasnya! Hidup akan menjadi lebih baik ketika kita menganutnya, dan jadilah musuhku jika kalian berbeda jalan denganku. Sudah seberapa fasis kita semua?

Sulit disangkal, bahwa semuanya bersifat mesianik. Jargon-jargon usang seperti “bunuh idolamu”, merupakan satu dogma tersendiri yang dipaksakan, karena kita semua memanglah munafik.

Semuanya berusaha menjadi Tuhan atas diri orang lain, sedangkan ia lupa menaruh kunci pintu surganya, karena terlalu mabuk akan nilai-nilai palsunya.

Tuhan telah mati, jauh hari sebelum Nietzsche menyiarkan berita kematiannya. Tak ada lagi yang perlu diperjuangkan untuk segala tawaran malaikat akan indahnya surga. Pun, tak ada lagi yang perlu ditakutkan dari ajakan iblis pada bara neraka.

Kini, yang ada hanyalah Aku yang masih hidup hingga detik ini. Menikmatinya saja tak cukup, karena ia berdiri di atas nilai-nilai. Lampaui!

NB: Aku tak akan meminta maaf kepada siapapun maupun membuat pleidoi pembelaan atas tulisanku ini. Persetan kalian semua!


*)Ditulis oleh: Arif Gilang, Doi juga jualan buku, brot, larisin! :p.


 

Limpahan Risau & Racauan Gembira Bodat Clans Sepanjang 2019

JURNAL BODAT #1

_

 

Sudah setengah tahun bonus satu bulan kalender Masehi, lembaran ini kami gelar. Mungkin belum terlalu panjang juga tidak begitu sesak sketsa-sketsa ego keseharian digurat di atas papan ini.

Sebelumnya, kami hanyalah jalinan vandalis yang tak mempecundangi literatur sebab literasi adalah dope keseharian di sela rehat sambil meneruskan tempur pada galeri kemuakan hidup sehari-hari. Atas kesadaran itulah, ego kami tak hanya kami bagi pada kevandalan di lini-lini kota. Lini maya dengan gairah literaturnya tak lupa kami target untuk sekadar curi sempat di dalam bisingnya ujaran netizen yang tak kunjung henti krisis eksistensinya.

Pangsa kami juga bukanlah golongan tertentu meskipun subyek bernalar instan sangat mungkin mendekat-dekatkan kami pada golongan tertentu. Limpahan risau dan racauan gembira ini hanyalah akan kami sampaikan bagai para ego untuk menghargai egonya sendiri senikmat-nikmatnya.

Persetan manifesto, reguklah perayaan ini via lembaran yang tertaut pada link sebelum paragraf pembuka. Mari!

Desember 2019

[Bodat Clans. Jejalin ego perangkai jurnal.]

Nihilisme Bukan Ketiadaan Apa-apa

Hasil gambar untuk nihilism is not nothing"

 

Tanyakan kepada hampir semua orang, dan mereka akan memberi tahu Anda bahwa nihilisme adalah kepercayaan terhadap ketiadaan. Dipopulerkan oleh film, Big Lebowski, dan diabadikan oleh para akademisi dan filsuf yang malas, kesalahpahaman tentang nihilisme ini telah menyebabkan semacam demonisasi dalam lingkaran anarkis. Primitivist John Zerzan sering menyesalkan nihilisme, mengatakan hal-hal seperti “… Anda mulai memiliki orang-orang yang begitu nihilistik mereka bahkan tidak peduli lagi dengan kehidupan.” Bagi Zerzan, nihilisme sama sekali tidak peduli dengan kehidupan.

Bahkan seorang transhumanis yang menentang primitivisme, William Gillis mengatakan ‘Bisakah nihilis menjadi anarkis? ”Tidak. Sama sekali tidak. Nihilisme adalah filosofi masyarakat kami sosiopat yang menyeluruh. Semua yang kita perjuangkan. ” Jika kaum primitivis dan transhumanis dapat membenci nihilisme bersama dengan begitu aktif, mungkin itu menunjukkan bahwa mereka memiliki lebih banyak kesamaan daripada yang diperkirakan. Mungkin nihilisme adalah hantu yang nyaman bagi kaum anarkis yang begitu mengakar dalam ideologi mereka sendiri primitivisme / transhumanisme / dll, sehingga ideologi-ideologi itu telah mulai menggantikan anarkisme?

Apakah nihilisme hanya berarti “tidak peduli tentang kehidupan?” Tentu saja tidak! Nihilis pertama disebut demikian karena “Ketiadaan” yang kemudian menjadi ada yang disukai di mata mereka. Ini tidak berarti bahwa orang-orang ini tidak percaya pada apa pun, atau tidak peduli dengan kehidupan. Justru sebaliknya! Bagi mereka yang akan membentuk dasar-dasar nihilisme, hidup itu cukup penting untuk menolak hal-hal yang akan berusaha membelenggu kehidupan. Nihilis pertama melihat sekeliling, tidak melihat apa pun yang mereka setujui, dan kemudian berangkat untuk menghancurkan hal-hal itu, sambil menciptakan struktur dan keadaan yang menyenangkan mereka. Nihilis pertama melihat sekeliling mereka, tidak menemukan apa pun yang mereka setujui, dan kemudian berangkat untuk menghancurkan hal-hal itu, sambil menciptakan atau membentuk struktur dan keadaan yang menyenangkan mereka. Nihilisme berasal dari orang yang ingin mewujudkan keinginan mereka melalui tindakan. Jika nihilisme hanyalah orang-orang yang tidak peduli, seperti klaim Zerzan, maka nihilisme tidak dapat membuat klaim telah membunuh sebuah tsar, dan hampir menjatuhkan sebuah kerajaan. Sejarah tidak mendukung klaim Zerzan.

Bisakah seseorang menjadi anarkis dan nihilis, seperti yang dinyatakan oleh Gillis bahwa itu tidak mungkin? Tentu saja! Bahkan, mulai dari Renzo Novatore, ke CCF, lalu ke FAI, kaum anarkis telah menjadi nihilis selama lebih dari seabad, dan hampir selama frasa “anarkisme” telah digunakan dalam politik. Gillis membuat klaim besar, sambil tidak mengetahui sejarah, atau dia mengklaim bahwa orang dan kelompok yang telah melakukan jauh lebih banyak dalam hal penciptaan anarki daripada dirinya sendiri bukanlah seorang anarkis, dan bahkan musuh anarkisme! Sekali lagi, kenyataan terbang di hadapan mereka yang akan membuat klaim palsu tentang nihilisme.

Gillis mengklaim bahwa nihilisme “adalah filosofi masyarakat sosiopat kami yang menyeluruh”. Kalau saja itu masalahnya! Kalau saja masyarakat kita berakar pada penolakan norma-norma sosial yang memaksa, dan serangan terhadap struktur yang menindas! Itulah yang dilakukan oleh para nihilis… Saya tidak yakin bagaimana hal itu menjadikan mereka musuh-musuh anarkisme.

Negasi dari setiap masyarakat, setiap kultus, setiap aturan dan dari setiap agama. Tapi saya tidak merindukan Nirvana, seperti saya tidak merindukan pesimisme putus asa dan tak berdaya dari Schopenhauer, yang merupakan hal yang lebih buruk daripada penolakan keras pada kehidupan itu sendiri. Punyaku adalah pesimisme yang antusias dan dionysian, seperti nyala api yang membakar kegembiraan vitalku, yang mengolok-olok penjara teori, ilmiah, atau moral apa pun. ”
– Renzo Novatore

Renzo Novatore, seorang anarkis nihilis Italia dari awal 1900-an, secara khusus memerangi gagasan nihilisme ini karena beberapa keputusasaan diperburuk, dan menolak nihilisme sebagai “pesimisme tak berdaya”. Novatore memahami bahwa penguasa dapat datang dalam berbagai bentuk, bahkan dalam bentuk “teoretis, ilmiah, dan moral.” Sebagai anarkis, bukankah kita harus waspada terhadap semua konsep sebagai penguasa potensial? Tidakkah kita seharusnya berusaha untuk secara nyata menentang apa yang memaksa kita? Haruskah kita tidak berusaha menciptakan keadaan yang lebih baik sesuai dengan keinginan kita? Bagi Tn. Gillis, tindakan-tindakan ini terlalu nihilis, yang mana membuatnya memegang anarkisme yang tampak tidak efektif. Saya berpendapat bahwa nihilisme adalah pujian, jika tidak melekat, pada anarkisme.

Jauh dari kepercayaan pada ketiadaan, nihilisme menantang kita untuk bertindak. Itu mendorong kita untuk menciptakan dunia yang ingin kita lihat, dan melakukannya sekarang. Seperti yang diambil oleh para nihilis awal dari Bakunin, “Hasrat untuk menghancurkan juga merupakan hasrat kreatif!” Nihilisme bukanlah akhir yang tanpa harapan, ini adalah awal yang cerah!

“(Nihilisme) berdiri seperti ekstrem yang tidak bisa dilampaui, namun itu adalah satu-satunya jalan sejati untuk melampaui; itu adalah prinsip awal yang baru.” – Maurice Blanchot

Jadi, mengapa ada upaya terpadu melawan konsep nihilisme dari berbagai sudut anarkisme? Mengapa beberapa orang begitu bersikeras menentang apa yang secara definitif, dan historis, sesuatu yang telah berurat berakar dalam anarkisme? Saya berpendapat bahwa justru karena cara tokoh-tokoh ini menempatkan diri mereka di antara anarkisme. Keengganan nihilisme untuk menerima dogma bertentangan dengan sikap dogmatis yang diambil oleh kaum anarkis seperti Gillis dan Zerzan. Setelah melukis diri mereka ke penjuru-penjuru sebagai transhumanis atau primitif, orang-orang seperti ini cenderung merasa terancam oleh nihilisme yang akan menolak transhumanisme atau primitivisme sebagai ideologi statis. Bagaimanapun, nihilisme menyerukan kelenturan gagasan yang bergerak seiring dengan kelancaran hasrat, dan tidak tertarik pada “penjara teoretis” yang mengklaim cara tertentu untuk melakukan anarki. Gillis dan Zerzan telah membangun diri mereka sendiri di atas seperangkat gagasan yang sangat spesifik, dan mereka memahami bahwa nihilisme menantang gagasan-gagasan ini yang mereka duduki di atas …. Entah karena itu, atau mereka benar-benar hanya tidak berpendidikan dan tidak tahu tentang asal-usul nihilisme yang sebenarnya.

Masyarakat mana pun yang Anda bangun akan memiliki keterbatasan. Dan di luar batas masyarakat mana pun, petualang yang susah diatur dan heroik akan berkeliaran dengan pemikiran liar mereka  — mereka yang tidak bisa hidup tanpa merencanakan gejolak pemberontakan yang baru dan mengerikan! Saya akan berada di antara mereka! ” — Renzo Novatore

Nihilisme bertentangan dengan preskripivisme dan dogma ideologi prafabrikasi. Ini mendorong tindakan, dan menggerakkan orang untuk menegasikan yang menindas mereka, sekaligus menciptakan keinginan mereka. Jauh dari menjadi penolakan pasif terhadap kehidupan, nihilisme berdiri tegak sebagai perayaan hidup yang aktif, atas kemampuan kita untuk menciptakan dan menghancurkan. Nihilisme memahami perlunya kewaspadaan konstan terhadap kalsifikasi yang terjadi di semua ideologi dan semua masyarakat. Tanpa kewaspadaan itu, bahkan kaum anarkis yang paling bersemangat pun rentan terhadap pemerintahan yang mereka klaim lawan.

“Dikalahkan di lumpur atau menang di bawah sinar matahari, saya menyanyikan kehidupan dan saya menyukainya! “- Renzo Novatore

 

[Dialihbahasakan oleh Arnit Jetta. yang bilang kalo insureksi bisa mengatasi insekyur]


Ditulis oleh No-Wing Anarchy
For an anarchism without wings, freeing ourselves from the left/right paradigm.


 

Persatuan Para Egois

~

*)Ditulis oleh  Svein Olav Nyberg.

_

Kesalahpahaman umum tentang egoisme, dan tentang egoisme Stirner pada khususnya, itu adalah jenis kebijakan anti-sosial yang tertutup. Sejauh melibatkan Stirner, komentator seperti itu pasti telah tertidur melalui setengah dari bukunya yang membahas diskusi sosial, atau lebih membahas – seperti apa interaksi sosial yang tidak dimediasi oleh cita-cita atau “ikatan alami”.

Lebih suka anti-sosialitas, seperti yang lebih banyak orang, tetapi lebih baik dilihat sebagai jenis sosialitas yang lebih matang.

Stirner adalah seorang filsuf dialektik, dan karena itu fokusnya adalah pada hubungan. Seperti yang berkaitan dengan hubungan, sering terdiri dari tiga elemen, dua relasi, dan hubungan itu sendiri, dan memutuskan triadik yang terkenal adalah kejadian umum dalam filsafat dialektik. Begitu juga dengan Stirner. Pengembangan triadik utama Stirner adalah dari Ikatan “alami” atau bahan dari orang dahulu, Obligasi oleh ide-ide, kami “kesetaraan sebelum alasan”, menjadi berkemauan atau memperoleh hubungan.

Dalam bukunya, Stirner memulai deskripsi hubungan yang diajukan dengan hubungan dengan objek dan ide material. Hubungan yang disengaja dengan ini adalah milik Anda (“eigentum”).

Kebalikan dari hubungan yang dihendaki adalah, seperti yang dialihkan, ikatan, “sudah” dan “harus”. Esensi ”yang harus saya tegaskan dan tidak bisa saya buang.

Kasus tertentu dari ikatan apa saja adalah kompilasi Anda tidak dapat melepaskan ide. Dalam istilah Hegelian: Komplikasi itu dilihat sebagai dikecualikan dan disucikan untuk “kekuatan negatif”. Gagasan seperti itu disebut komitmen tetap. Yaitu, dalam kata-kata Stirner “Sebuah ide yang membuat manusia miliknya sendiri” – sebuah ide yang tidak memungkinkan Anda mengkritik. [Ingat bahwa Der Einzige adalah “kekuatan yang negatif” untuk dirinya sendiri.]

Gagasan sering diekspresikan di dunia materi, disampaikan kita diundang. Salah satu ide tersebut adalah “properti”. Perlu dipertimbangkan tentang penggunaan umum dari kata ini untuk menyesuaikan dengan ide – Ide Tetap – tentang apa yang Anda letakkan. Namun, menurut Stirner, properti dalam pengertian ini, “properti suci” atau lebih dari itu disebut “properti negara”, tidak dikecualikan dari kritik dan dari – percakapan yang menumpangkannya. Dalam arti harus menjadi miliknya Dalam pemikirannya seperti itu – dalam tindakan yang disengaja dan disengaja. Namun, kepemilikan faktual, menumpangkan tangan di atas, juga tergantung pada “kekuatan saya”, seperti yang diubah oleh Stirner.

Sekarang, begitu hubungan “Eigentum” – “properti” dalam pengertian Stirnerian telah dipahami – dan tidak sebelumnya, dapatkah kita melanjutkan ke pertemuan dua Einzige, dua Subjek. Ada beberapa cara di mana dua orang dapat bertemu:

1. Obligasi

Ini adalah Rapat dua orang yang sesuai dengan “Rapat” berperilaku satu sama lain. Ini bukan pertemuan seperti yang dihadiri, diadakan rapat menurut “yang dilakukan”. Contohnya adalah kompilasi ayah dan anak laki-laki yang bertemu peran ayah dan anak. “Ayah” dan “putra” mereka akan selalu tetap dalam arti deskriptif. Namun, mereka bertemu dengan peran seperti itu, mereka bertemu dengan “bertemu” dan bukan oleh “kehendak”. Relevansi dilihat sebagai objek statistik.

2. Properti

Relasi dapat menjadi satu sisi yang disengaja. Dalam hal ini, yang satu adalah Einzige sedangkan Yang lain telah menjadi Eigentum (untuk yang Einzige). Mungkin ini adalah keadaan di mana kita dapat mengatakan “Neraka adalah Yang Lain” (yaitu kompilasi lelaki lain itu adalah Einzige dan saya kompilasi menjadi peran sebagai Eigentum).

Namun, Moses Hess mengkritik konsepsi Stirner tentang apa yang disebut Stirner sebagai “Verein der Egoisten” [“Persatuan Egois”] di sepanjang garis pertemuan seperti itu, harus ada orang yang membantah dan orang-orang yang meminta pada dominasi. Yaitu, Hess membayangkan bahwa “Persatuan Egois” akan menjadi semacam hubungan yang dibahas di atas.

Sekarang, mungkin menggambarkan egois thomas Hobbes. Tapi bisakah itu menggambarkan Hegelian (seperti yang disebut Stirner)? Tidak, itu agak terlalu kasar. Stirner sendiri membalas kritik ini dengan menunjuk ke contoh: Dua teman bermain dengan mainan mereka, dua pria pergi bersama ke toko anggur. Ini Tentu saja tidak termasuk daftar pekerja yang lengkap, dan lelaki kami. Pengaduk memang berbicara tentang serikat yang terdiri dari ribuan orang, juga, pekerja serikat yang bersatu untuk mengumpulkan seorang pencuri atau untuk mendapatkan upah yang lebih baik untuk tenaga sendiri.

Secara lebih filosofis, Musa menganggap keberpihakan satu sisi, dan menganggapnya penting bagi Stirner. Apa yang kemudian menjadi lebih alami dari menerapkan kalimat dialektis sedikit untuk mencari tahu apa yang sebenarnya dilakukan. Saya yang setuju

3. Serikat pekerja

Relasikan dibahas sebagai suatu proses. Ini adalah proses di mana hubungan terus ditingkatkan oleh kedua bagian yang mendukungnya melalui tindakan kehendak. Serikat pekerja mensyaratkan kedua pihak hadir melalui egoisme sadar – yaitu keinginan sendiri. Jika satu bagian diam-diam mendapati berhasil, tetapi diselesaikan dan – mempertahankan penampilan, serikat pekerja berhasil merosot menjadi sesuatu yang lain

Hanya setelah perkembangan sampai pada pemahaman tentang persatuan para egois, pengaduk sampai hubungan yang penting – hubungan saya dengan diri saya sendiri. Pada bagian yang berjudul “Kenikmatan Diri Saya”, Stirner. Dalam pandangan sebelumnya, saya adalah objek yang harus dilestarikan. Dalam yang terakhir saya lihat diri saya sebagai subjek dari semua hubungan nilai saya.

Dalam pengertian ini, Stirner dapat menegur pertanyaan “apa aku?” Dan menggantinya dengan “siapa aku?”, Sebuah pertanyaan yang diajukan pada orang yang bertanya. Ini adalah “ketiadaan” yang disebut Stirner sebagai I. “Bukan apa-apa dalam arti kekosongan, tetapi tidak ada yang kreatif.”

Dengan demikian, hubungan saya dengan diri saya adalah pertemuan diri saya dengan kehendak, penyatuan dengan diri saya sendiri dan konsumsi – perampasan – diri saya sebagai milik saya.

“Tidak ada ruang untuk Tuhan dalam diri manusia yang penuh dengan miliknya sendiri.”—disampaikan dari sisi luar gereja lokal.

[Penerjemah: Fique. Bisa diajak berantem lewat sini.]

Fenomena Anarko sebagai Krisis Eksistensi

 

*)Ditulis oleh Edvans Edeb Kratom.

 

_

Pada tiap sudut kota, seringkali ditemukan gambar dari sebuah cat semprot yang membentuk logo circle A. Aku sendiri tidak yakin tentang pemahaman dari individu yang melakukan tindakan tersebut, dalam tanda kutip; apakah mereka mengerti tentang sebuah gagasan yang mereka kedepankan; sebab persoalan signifikannya bukan tentang sebuah logo tapi tentang upaya dan kesadaran karena sudah sering aku bertemu segelintir pelaku vandalisme lalu aku pun menanyakan tujuan juga maksud dari tindakan yang mereka lakukan.

Tapi jawaban dari beberapa pelaku sungguh membuatku mual dan ingin muntah. Mereka beralasan tentang sebuah eksistensi dan dari kenyataan yang terjadi hari ini seringkali kita melihat sebuah poster tuntutan yang memakai logo “(A)” pada setiap aksi protes massa dan ini adalah hal yang sangat absurd; gagasan yang menolak dominasi juga sistem melakukan tindakan mengemis dan mengiba pada objek yang mereka tolak dan tidak dikehendaki. Sungguh tragis.

Fenomena anarko yang terjadi hari ini adalah sebuah krisis eksistensi individu yang menjadikan pembangkangan sebagai trending sosial karena mungkin bagi mereka, sesuatu hal yang anti mainstream adalah gaya hidup yang maskulin. Hahaha… Eksistensi anarko ini adalah sebuah upaya perlawanan yang sebenarnya juga patut untuk diapresiasikan sebab mereka bertindak dengan spontanisme dan juga situasi yang memang upaya yang harus dilakukan adalah menolak setiap kebijakan hukum yang dibuat-buat demi menyelamatkan dan mempertahankan posisi busuk dari instansi pemerintah. Tapi eksistensi anarko juga patut dikritisi karena masih banyak dari mereka yang hanya mengerti tentang penindasan negara tanpa mereka sadari ada orang dekat yang akan mengingkari keberadaan mereka jika sebuah tatanan lama dapat dihancurkan.

Dan lebih parahnya adalah mereka yang terjebak pada serangkaian dinamika ilusi yang dikendalikan dan dijadikan alat demi kepentingan politik seseorang, hal ini sering terjadi dalam sebuah kelompok yang terorganisir dan otonom tapi masih mempertahankan sebuah penokohan. Hal tersebut memudahkan seseorang untuk melakukan propaganda dan doktrinisasi terhadap internalnya demi melancarkan tujuan busuk dan pencapaiannya dengan mengerahkan kekuatan massa.

Jangan pernah berkompromi dengan mereka yang berupaya mengambil posisi. Kiri dan Kanan sama saja. Kita harus membangun sebuah kesadaran dan kita juga harus menghancurkan kesakralan!

 

Kepemilikan dan Properti: Semua Tidak Ada

 

*)Ditulis oleh Keiji Nishitani. Pengkaji nihilisme

Diri sebagai egois hadir selama ini sebagai objek negasi paling bawah dari Dewa agama atau pribadi etis. Diri itu ditolak sebagai “orang berdosa” dan “orang yang tidak manusiawi celaka”. Tapi tidak ada yang bisa mengubah diri Anda sebagai diri sendiri jasmani ini, dengan ke-bawaan yang melekat, miliknya sendiri (Eigenheit). Terkalahkan oleh Tuhan, negara, masyarakat, dan berkembang, namun lambat-tanah mulai diangkat lagi. Ini bisa dilakukan karena fanatik mengacungkan Alkitab atau alasan atau tujuan “tidak sadar dan tidak sengaja mengejar ke-aku-an”.

Pertama, terungkap bahwa tubuh itu asli “Tuhan” adalah “manusia” yang mewakili satu langkah menuju penemuan ego.

Pencarian diri tetap tidak sadar kompilasi ego bertanya pada fanatisme atas alasan atau ide yang diajukan.

Dalam pengutukan humanisme tentang egoisme, ego sebagai tidak manusiawi dan egois, semakin kuat upayanya, semakin jelas ego, semakin banyak yang harus dibuang. Hanya dari kedalaman nihility ke mana ego telah dipindahkan sehingga ia bisa, dengan cara menangkal semua negasi, bangkit untuk merebut kembali dirinya sendiri.

Di pertama kali karyanya, Stirner mengembangkan dialektika besi ini; di babak kedua, ia bulat dengan sudut pandang positif egoisme, menunjukkan bagaimana ego mengklaim keunikan dan kepemilikannya, merangkum dalam semua hal dan menggabungkan lain, mengasimilasi dan menyesuaikannya dengan pemilik sendiri sebagai pemilik (Eigner), dan dengan demikian dapat dilihat satu-satunya yang dicari unik (Einzige) yang telah mengambil alih segala sesuatu dalam ke-aku-annya sendiri dan membuat dunia ini dari isi sendiri.

Pengadukan menjawab pengakuan sebagai penyempurnaan “kebebasan.” “Kebebasan” pada awalnya adalah doktrin Kristen yang membahas tentang membebaskan diri dari dunia ini dan menyerahkan semua hal yang membebani diri sendiri. Ajaran ini pada akhirnya menyebabkan keluarnya agama Kristen dan moralitasnya demi pendirian ego “tanpa dosa, tanpa Tuhan, tanpa moralitas, dan sebagainya”. “Kebebasan” ini, namun, negatif dan pasif. Ego masih harus mengendalikan hal-hal yang darinya ia dilepaskan dan membuatnya miliknya sendiri; itu harus menjadi pemiliknya (Eigner). Ini adalah sudut pandang kepemilikan (Eigenheit).

Betapa ada perbedaan antara kebebasan dan ke-aku-an. Saya bebas dari hal-hal yang harus saya singkirkan tetapi saya adalah pemiliknya( Lebih terang) dari hal-hal yang saya miliki dalam kekuatan saya (Macht) dan yang saya kendalikan (miichtig).

Eigenheit adalah sudut pandang Eigene; dalam sudut pandang ini kebebasan itu sendiri menjadi milik saya untuk pertama kalinya. Begitu ego mengendalikan semuanya dan memenangkan miliknya, ia benar-benar memiliki kebebasan. Dengan kata lain, kompilasi ia menantang bahkan “bentuk kebebasan,” kebebasan menjadi miliknya. Stirner mengatakan bahwa “individu (der Eigene) adalah orang yang berhak bebas; Tapi liberal adalah orang yang mencari kebebasan, sebagai pemimpi dan fanatik “.

Dan lagi:

“Kepemilikan telah menciptakan kebebasan baru, melampaui itu adalah pencipta segalanya”. Kepemilikan ini adalah milik saya sendiri, dan “seluruh esensi dan dapatkan saya.” Ego berpikir dan merupakan pengontrol dan pemilik semua berpikir, tetapi ego tidak dapat dipahami dengan pikiran. Dalam pengertian ini bahkan disetujui sebagai “keadaan tanpa pertimbangan (Gedankenlosigkeit)”. Berbeda dengan Feuerbach, yang menganggap “manusia” sebagai esensi manusia dan egois yang mempercayai sebagai “celaka yang bukan manusiawi,” Pengaduk menyatakan bahwa tidak ada cara untuk membantah tentang manusia dari yang membantunya. Jika ada, eksistensialisme Stirner melarutkan esensi manusia ke dalam Keberadaan yang tidak dapat dipanggil.

Dari semua yang telah diselesaikan, afinitas terpasang Stirner dengan Nietzsche harus jelas. Sudut pandangnya tentang “kekuatan” untuk mengasimilasi segala sesuatu di dunia ke dalam diri ini memintakan pendapat tentang Nietzsche tentang keinginan untuk berkuasa. Dalam Nietzsche, kebodohan adalah puncak dari pengetahuan, dan di Stirner adalah “kecerobohan” yang membuat semua orang memahami harta saya. Ego dalam Nietzsche juga pada akhirnya tidak bernama, atau paling simbolis disebut Dionysus. Dalam kasus Stirner, kami juga menemukan tidak “tidak ada yang kreatif,” nihilisme yang kreatif. Poin terakhir ini perlu dibahas lebih lanjut.

Dalam bagian yang luar biasa, Stirner berhadapan dengan “iman dalam kebenaran,” seperti Nietzsche, dan menegaskan “iman dalam diri itu sendiri” sebagai sudut pandang nihilisme.

Selama Anda Percaya Pada Keyakinan, Anda Tidak Percaya Pada Diri Sendiri dan seorang hamba, orang yang religius. Anda sendiri adalah kebenaran, atau lebih meyakinkan, Anda lebih dari kebenaran, yang bukan apa-apa sama sekali sebelum kamu.

Tentu saja Anda bertanya kebenaran, dari Tentu saja selagi Anda “mengkritik,” tetapi Anda tidak meminta setelah “Kebenaran yang lebih tinggi,” yang akan lebih tinggi dari Anda, dan Anda yang melakukannya tidak mengkritik menurut kriteria kebenaran seperti itu. Anda terlibat pikiran dan ide, saat Anda melakukan penampilan hal-hal, hanya untuk tujuan mengadopsi.

Anda sendiri, ingin untuk mengatur mereka dan menjadi pemiliknya, Anda ingin berorientasi diri dan betah di sini, dan Anda menemukan mereka benar atau melihat mereka dalam cahaya sejati mereka.

kompilasi mereka tepat untuk Anda, kompilasi mereka adalah milik Anda. Jika mereka nanti menjadie lebihberat lagi, jika mereka harus melepaskan diri lagi dari kekuatanmu, milikku ketidakbenaran mereka – yaitu, milikmu ketidakberdayaan.

Ketidakberdayaanmu (Ohnmacht) adalah kekuatan mereka (Mach), kerendahan hati Anda akan kebesaran mereka. Kebenaran mereka, oleh karena itu, apakah Anda, atau apa-apa yang Anda bagi mereka, dan di mana mereka  larut, kebenaran mereka adalah pembatalan mereka (Nichtigkeit).

Penegasan Stirner di sini adalah bahwa kebenaran itu adalah ketidaksempurnaan yang dimiliki seseorang, dan kekuatan yang tidak adil atas seseorang, sampai pada hal yang sama dengan pernyataan Nietzsche yang mengatakan “kehendak untuk kebenaran” adalah impotensi dari kehendak, “kebenaran” adalah ilusi dengan yang kehendak yang dipercayai juga, dan itulah di belakang filsafat yang mencari kebenaran di arus nihilisme. Lebih jauh, anggap sebagai pengubah pikiran menjadi milik seseorang, maka jadilah yang benar untuk pertama kalinya sejajar dengan perkataan Nietzsche karena ilusi ditegaskan sebagai berguna bagi kehidupan dari sudut pandang kemauan menuju kekuatan. Dalam istilah Stirner, perbedaan sebagai ketidakberdayaan berubah menjadi sesuatu yang kreatif. Ini “mengatasi nihilisme” dan “iman dalam diri”

Dia melanjutkan:

“Semua kebenaran itu sudah mati, mayat; itu hidup hanya dengan paru-paru saya hidup-yaitu, sebanding dengan vitalitas saya sendiri ”. Setiap kebenaran yang diperoleh di atas ego membunuh ego; dan selama itu membunuh ego, itu sendiri mati, dan hanya muncul sebagai “hantu” atau idee fixe.

Setiap kebenaran dari suatu era adalah idee fixe dari era itu. Seseorang juga ingin ‘diilhami’ (begeistert) oleh ‘kepemimpinan’ semacam itu. Semua orang ingin dikuasai oleh pikiran-dan diberikan olehnya!

Dengan demikian, untuk menemukan benang nihilisme yang jelas yang berjalan selama lima puluh tahun yang diambil Nietzsche dari Stirner, yang masing-masing menerima nihilismenya sebagai konversi dari revolusi besar dalam sejarah dunia Eropa. Seperti yang disetujui Stirner: “Kami berdiri di perbatasan.” Ternyata benar-benar pemikir krisis dalam arti yang paling radikal.

Kami melihat bagaimana Feuerbach mengkritik semangat absolut sebagai “abstraksi” dan menawarkan postur yang benar-benar nyata sebagai hasil itu. Menurut Stirner, “menambah” Feuerbach ini tidak lebih dari sebuah abstraksi.

Tapi aku bukan hanya abstraksi, aku semua dalam semua, dan karenanya

saya sendiri abstraksi atau tidak sama sekali. Saya adalah segalanya dan bukan apa-apa;

(Saya bukan berpikir, tetapi pada saat yang sama saya penuh pikiran, dunia pikiran.) Hegel mengutuk Aku-ness, apa yang milikku (Meinige) -yaitu, “pendapat” (Meinung). Namun, “berpikir kritis”. Aku lupa itu adalah pemikiran saya, dan itu akulah yang berpikir (ich denke), itu adalah itu sendiri melalui saya, itu hanya pendapat saya.

Hal yang sama dapat membantah tentang kegagalan Feuerbach pada sensasi (Sinnlichkeit) yang menentang dengan Hegel:

[Kutipan] Tapi untuk berpikir dan juga merasakan, dan untuk abstrak tentang
yang masuk akal, saya perlu di atas segalanya saya sendiri,

dan memang saya sebagai ini benar-benar saya, individu yang unik ini.

Ego, yang semuanya dan tidak ada yang sama sekali, yang bahkan dapat disebut yang absolut atas pemikiran saya, adalah ego yang mengusir dari diri sendiri segala sesuatu dan memahami, memunculkan nihilitas diri, dan pada saat yang sama membalikkan “kebenaran” mereka. adalah ego yang sama yang kemudian membuat mereka daging dan darahnya sendiri, memiliki mereka dan “menikmati” (geniessen) penggunaannya. Ego menyisipkan nihility di belakang “esensi” dari semua hal, di belakang “kebenaran” dari semua ide, dan di belakang “Tuhan” yang ada di tanah mereka. Dalam hal ini hal-hal suci yang digunakan untuk berkuasa ego dilucuti dari penutup luar mereka untuk mengungkapkan sifat sejati mereka. Ego mengambil tempat mereka dan membuat segala sesuatu dan ide-idenya sendiri, menjadi satu dengan dunia dalam sudut pandang nihility. Dengan kata lain,

Inilah mengapa Berpikir, “Mengatakan” milik “pencipta segala sesuatu, lahir bebas. Dari sudut pandang ini, ia dapat mengklaim, bagi individu, berpikir itu hanya menjadi “hiburan” (Kurzweile) atau “Perspektif dari aku yang tidak berpikir dan berpikir”. Saya sudah membahas tentang cara di mana jurang nihility mengungkapkan wajah kehidupan yang sebenarnya sebagai kebosanan (Langweile) dikembalikan dengan Schopenhauer dan Kierkegaard. Nihilisme kreatif yang mengatasi nihilisme semacam ini muncul sebagai “permainan” di Nietzsche dan sebagai “hiburan” di Stirner.

 

[ Penerjemah: Fique Al-Botaqy.  Penggagas bucinisme absolut. ]

Kematian dari Monster Paling Mengerikan

Aku senang dan sedih. Aku berjalan tanpa tujuan melalui pedesaan yang sepi di bawah momok sinar matahari siang, dengan satu-satunya tujuan hidup beberapa jam di kesendirian, jauh dari kerumunan orang kaya dan miskin. pikiran hitam membombardir otakku, pikirku kacau balau dan aku berjalan, aku berjalan tanpa lelah, tidak memperhatikan waktu yang berlalu, tidak juga ke jalan yang aku lalui, jalan yang benar-benar bagiku. 

Matahari hanya mengingat kompilasi aku menemukan diriku di tempat yang aku sebut sebagai ranah Kematian. Medannya semua berlumpur, bukan satu pohon, bukan satu helai rumput. bau busuk muncul dari kolam, mana langit paling mudah oleh segudang serangga dan burung hitam aneh, yang berputar di udara yang tenang tanpa membuat suara apa pun Di mana aku? Aku berbalik lalu kembali lagi dengan tujuan kembali ke rumah. tapi aku belum melangkah mundur langkah kompilasi terdengar suara besar dari rawa itu dan mengundang namaku. Sedikit ragu, aku berbalik ke titik dari mana suara itu datang dan melihat sesuatu bergerak di lumpur. Siapa itu Aku mengambil beberapa langkah dan melihat monster mundur, yang mengundangku dengan gerakan tubuh untuk mendekatinya. Sungguh mengerikan! Dia adalah monster yang menakutkan. Tubuhnya menghabiskan rambut yang sangat panjang, berlumpur, berdarah, dan lebat. Lebar kepiting yang lebar tertutup. Mata, hidung, mulut dan telinganya diganti dengan enam lubang bulat besar. Malah jemari, tangan dan kaki punya cakar yang sangat panjang dan bengkok. Dan bau busuk itu adalah hasil dari dukungan!

Dengan suara yang sama sekali tidak seperti manusia, monster itu berkata padaku:

“Oh, akhirnya kamu disini! Mengapa kau tidak tertawa sekarang, murid Stirner yang terkutuk, penghuni puncak yang sendirian, bencana moral? Kenapa kamu tidak tertawa sekarang?”

“Tapi itu Stirner Mesir!” Jawabku. “Aku bukan murid siapa-siapa. Tapi siapa kamu, dan bagaimana kamu mengenalku?”

“Aku,” Monser menjawab, “adalah moralitas dan aku menutut alasan untuk penghinaan yang telah kamu curahkan kepadaku selama hampir dua puluh tahun, bersama dengan bajingan-bajingan itu, kawan-kawan individualismu. Kamu selalu mencaciku meskipun kamu tahu bahwa aku adalah emanasi langsung dari Tuhan dan aku kekal dan mahakuasa seperti dia. Jika kamu tidak berubah pikiran, aku, dengan tangan-tangan suci ini, akan membunuhmu dan meminum darahmu yang terkutuk.”

“Ini, oh Moralitas,” aku menambahkan dengan cemas, “Aku mungkin salah dan ingin mengakuinya. Cobalah meyakinkan aku tentang kesalahan yang aku lakukan dan aku akan dengan senang hati menjadi budakmu yang setia dan pengagum yang kuat.”

Tapi monster itu menjawab dengan marah:

“Tidak, tidak, ini bukan pertanyaan untuk meyakinkan atau membujuk, ini pertanyaan untuk mempercayai aku secara buta seperti yang dilakukan oleh orang lain, dan kamu tidak berbeda dari yang lain, apakah kamu mengerti?”

“Aku mengerti secara ilahi,” Aku memberanikan diri untuk menyatakan, “Aku hanya ingin memohon kepadamu untuk berbicara tentang misi besar yang kamu miliki di dunia ini kepadaku: memuaskan aku.”

“Aku akan memuaskanmu,” kata monster itu, “tapi pertama-tama aku ingin makan.”

Ketika dia mengatakan ini, dia duduk, membuka sebuah karung yang dia miliki di sampingnya, mengangkat bayi yang sudah mati, menggigit kepala kecil itu dan mulai makan dengan rakus.

Aku merasa ngeri.

Moralitas bertanya kepadaku: “Apakah kamu ingin memilikinya?”

“Terima kasih banyak,” jawabku, “tetapi kami individualis tidak benar-benar kanibal sebagai orang besar, seorang moralis akhir-akhir ini, disindir. Katakan padaku, jika diizinkan, siapa yang memberimu bayi-bayi malang itu?”

Dia dengan jujur mengakui:

“Semua moralis membawa mereka kepada aku dengan imbalan jasa yang aku berikan kepada mereka.”

***

Setelah dia menyelesaikan makannya yang mengerikan, dia mulai berbicara:

“Sekarang, dengarkan aku dengan baik, aku akan berbicara dengan jujur dan tulus kepadamu, tetapi jangan mudah tersinggung jika aku menunjukkan kepadamu kebenaran yang terlalu pahit dan sensitif.”

Ketahuilah, pertama-tama, bahwa sifat dan fungsiku berubah sesuai dengan perubahan zaman dan sosial dan bervariasi dari satu tempat ke tempat lain. Di tempat-tempat tertentu, misalnya, kanibalisme dan poligami adalah moral, sementara di antara kita, mereka adalah kejahatan paling kejam. Dan bahkan di sini, apa yang diizinkan kemarin, akan dilarang hari ini, karena dianggap tidak bermoral, sedangkan besok mungkin akan dinilai sebagai sesuatu yang sangat bermoral, atau bahkan dibuat wajib.

Lebih jauh, fungsiku berubah sesuai dengan kelas sosial, partai, sekte, organisasi, dll., Yang menjadi milik individu, karena roh aku seperti polyhedron dari seribu wajah dan setiap wajah dimaksudkan untuk kelompok atau kategori manusia tertentu”

“Sebagai contoh, aku memberitahu kelas pengusaha kaya:

Bagimu adalah moral untuk hidup di atas punggung pekerja, untuk bepergian dengan kereta mewah, dengan mobil, dengan pesawat terbang, untuk berpakaian yang terbuat dari sutra, untuk menghabiskan ribuan dolar untuk sebuah perhiasan, untuk menjaga seratus pelacur yang disepuh emas, untuk memiliki istana di kota-kota, vila-vila di pegunungan dan di tepi laut dan para pelayan dalam seragam jongos serta kuda-kuda dan gerbong-gerbong dan segalanya, karena properti adalah suci dan tidak dapat diganggu gugat. Jadi cobalah untuk mendidik rakyat jelata sehubungan dengan prinsip itu, dan jika gerombolan orang miskin dan budak berani mengangkat kepalanya, kamu harus meminta bantuan kepada para pembunuh bayaran yang atas nama hukum atau untuk sejumlah uang, akan tahu bagaimana menempatkan mereka yang melanggar properti suci di tempat mereka.”

“Kepada para imam dan biarawan, saya mengatakan:

Mengkhotbahkan pengunduran diri dan kerendahan hati, menggelapkan kecerdasan, membuat pikiran tertidur, menjanjikan surga di luar kuburan, selalu menipu orang miskin ketika mereka dibaptis, dikukuhkan, diberi komuni suci, menikah, ketika mereka sakit, ketika mereka mati dan dikuburkan dan bahkan ratusan atau ribuan tahun setelah mereka dikuburkan, melantunkan mazmur dalam perayaan massa untuk jiwa mereka. Begitulah.

Dan jangan mendapatkan ide untuk membentuk keluarga, karena itu adalah kekhawatiran serius. Wanita? … Eh, ada begitu banyak wanita kaya dan miskin yang membutuhkan pengakuanmu! Jangan takut. Bahkan banyak subversif mengirim istri mereka, saudara perempuan mereka, anak perempuan mereka kepada kamu. Dan kemudian ada para biarawati, putri Mary, murid-muridnya, dll. Dan pada akhirnya, tidak dikatakan bahwa kita harus mencampakkan anak-anak yang dipercayakan kepadamu perawat agama. Selalu menghibur diri, karena idiot membayar dengan baik. Panjang umur untuk massa hitam!”

“Tetapi pekerjaanku menjadi paling fasih dan efektif ketika aku menjalankan fungsi patriotik. Oh, tanah air! Aku katakan kepada anak-anak orang kaya, perwira, pendeta dan pelacur: Jadilah patriotik. Siapa pun yang tidak mencintai tanah air, tidak mencintai ibunya. Dan tunjukkan gairah patriotikmu dengan menyanyikan pujian perang, kebersihan dunia. Ada musuhmu yang berbicara bahasa yang berbeda dari kamu, yang memiliki kebiasaan yang berbeda, memusnahkan mereka dengan nama suci tanah air. Raja kita, raja orang kaya, akan menaklukkan seluruh bumi, akan menjadi lebih kuat, dan, karena kekuatannya, milikmu akan tumbuh, karena dia adalah ayahmu, ayah dari tanah air. Berteriak di jalanan dan gang-gang: Panjang umur peperangan! dan perang akan terjadi. Kamu tidak ingin pergi? Kamu benar. Kamu kaya dan layak untuk terhindar. Teriakan: Kami akan mempersenjatai diri dan pergi perang, dan pasukan orang buangan akan pergi tanpa berpikir dan membantai lalu dibantai karena raja dan tanah air menginginkannya seperti ini, aku menginginkannya dengan cara ini.

Ibu, istri, anak-anak, saudara perempuan akan menangis dan mengutuk dengan sia-sia. Akankah ada tentara keras kepala yang tidak mau pergi, yang tidak ingin membunuh orang tak dikenal yang tidak pernah menyebabkan mereka terluka? Tapi apakah itu tampak seperti itu? Pekerja adalah patriot, mereka adalah pahlawan, mereka akan bertarung seperti singa dan mengembalikan kemenangan.

Jika, kemudian, mereka tidak menunjukkan diri mereka sendiri seperti itu, polisi kami yang baik-baik saja, para penjaga kerajaan, para petugas Guardia di Finanza [1] dan polisi lain akan berpikir untuk memberi mereka tendangan tepat di pantat dan mendorong mereka untuk menyerang dan melakukan serangan balik.

Maju, Savoy, melalui cinta atau melalui kekuatan!

Kebencian akan menyebar seperti api, dahaga akan darah menjadi tak terpadamkan; itu akan menjadi nafsu. Ini akan menjadi perjuangan biadab untuk tubuh ke tubuh, darah akan mengaliri sungai dan gunungan mayat akan bertambah. Semakin kejam seseorang, semakin dia akan dinilai sebagai seorang pahlawan. Inilah yang terjadi dalam perang dunia terakhir. Ada berjuta-juta kematian, berjuta-juta yang dibiarkan buta, tuli, bisu, gila, kriminal, TBC, lumpuh di lengan dan kaki mereka, tertegun dan sebagainya berkata, tetapi apa bedanya?

Perang itu menimbulkan kelaparan dan wabah. Orang tua dan anak-anak pekerja menangis dan mengulurkan tangan mereka untuk belas kasihan dari orang-orang, wanita muda menjadi pelacur, tetapi orang kaya memiliki lebih banyak uang, lebih banyak kekuatan, lebih banyak kemenangan. Ini adalah perang, ini adalah tanah air, ini adalah Moralitas. ”

“Sekarang saya akan memberitahu tentang salah satu keturunan saya yang terkasih: fasisme. Tiga tahun yang lalu, kepentingan bangsa, yaitu kaum borjuis, sangat terancam oleh gelombang proletar, yang — muak dengan kesengsaraan yang tak ada habisnya — membanjiri lembaga-lembaga suci tanah air. Proletariat tidak lagi mendengarkan desakan lembut para penguasa untuk tenang. Kemudian fasisme bangkit untuk memusnahkan orang-orang subversif. Ribuan pemuda mendaftar, dan mereka dipersenjatai.

Polisi dan sistem peradilan meyakinkan mereka akan impunitas, borjuasi membayar upah secara terpisah, pers dengan hormat memberikan tepuk tangan, dan mereka dapat memakai praktik teror dalam skala besar.

Diapit oleh penjaga kerajaan dan oleh polisi dengan kemeja hitam, setiap hari mereka melakukan segala macam tindakan keberanian. Mereka mewajibkan warga negara untuk menempelkan tricolor( bendera Perancis) di luar jendela mereka, untuk memakai pita di lubang kancing jaket mereka, untuk bangkit berdiri, topi, pada not pertama dari pawai kerajaan, untuk berteriak Hidup raja! Sebagai kompensasi, mereka pada dasarnya menyebut diri mereka republiken seperti pemimpin mereka. Dan mereka membakar gubuk pekerja. Semuanya diizinkan bagi mereka kecuali memukul para pemimpin dari pihak yang berseberangan, karena jika partai-partai ini kehilangan pemimpin mereka, tidak ada yang akan melakukan tugas sebagai pemadam kebakaran dan mata-mata.”

Monster itu berhenti sejenak, lalu melanjutkan pidatonya:

“Mungkin kamu tidak tahu tentang kekuatanku yang tak terbatas dan karenanya melawanku, oh, orang jahat. Untuk membentuk konsep kekuatan tertinggi aku untuk kamu, aku memberi tahumu bahwa aku menembus ke dalam hati manusia, mengarahkan emosi dan hasrat dan semua hubungan duniawi antara pria dan wanita. Dalam hal ini, saya mengambil nama moralitas seksual.

Di antara orang-orang yang beradab seperti kita, aku menyatakan cinta tunggal, monogami, dan eksklusifitas cinta. Memang benar bahwa sangat sedikit pria dan wanita mengikutinya, bahwa hampir keseluruhan lebih suka pluralitas kasih sayang dan persetubuhan, karena semua adalah pecinta yang baru dan berbagai dalam semua manifestasi kehidupan dan terutama dalam cinta, tetapi apa yang bisa menjadi masalah untuk saya?

Aku mengharuskan cinta hanya untuk satu, jika tidak secara substansi, setidaknya dalam bentuk karena penampilan harus benar-benar diselamatkan.

Aku tahu bahwa kamu tidak sependapat dengan hal ini, bahwa kamu suka bermain-main dari bunga ke bunga, menghirup dengan paru-paru penuh aroma daging beludru, menghiasi diri dengan bunga-bunga kejahatan. Tetapi aku menertawakanmu, pada kekecewaan dan kesedihan yang aku buat untuk kamu. Aku telah berjanji kepada kamu bahwa aku akan tulus, dan aku akan berbicara kepada kamu juga tentang ketidaknyamanan yang sangat serius yang berasal dari larangan moralitas seksual.

Anak laki-laki dan perempuan muda, kepada siapa persetubuhan — sesuai dengan usia mereka yang ditawarkan — ditolak, dikonsumsi dan hancur dalam praktik masturbasi.

Beberapa tahun yang lalu — kamu ingat — surat kabar berbicara tentang seorang wanita muda bangsawan tinggi, yang, saat dia menghibur diri di kamar bersama anjingnya, mendengar gagang pintu bergerak. Untuk menyembunyikan rasa bersalahnya, dia mencoba membebaskan dirinya dari pelukan anjing, binatang buas, yang tidak bisa mentolerir gangguan yang tiba-tiba mencekiknya.

Contoh di mana seorang wanita, untuk menghancurkan bukti cintanya yang tidak sah, mencoba untuk membatalkan dan mengakhiri hari-harinya di rumah sakit.

Beberapa wanita lain, masih dalam penghormatan terhadap moralitas, mencekik buah rahimnya dengan tangannya sendiri dan melemparkannya ke dalam kanal selokan. Lalu ada wanita yang paling cantik, bersemangat dengan kehidupan muda, haus akan keracunan, yang wajib menyerahkan diri pada pelukan seorang lelaki tua yang berpenyakit dan menjijikkan. “”Ah, “potongku,” Aku tidak salah ketika Saya menulis di sebuah majalah bahwa penyakit kelamin, persetubuhan dengan anjing, pembunuhan bayi dan semua kejahatan yang dilakukan untuk hasrat asmara berawal pada keterbatasan yang dipaksakan oleh moralitas!”

“Aku tidak mengizinkan kamu untuk memotong aku,” Moralitas protes, “karena kebenaranku tidak untuk dibahas, tapi untuk diterima.”

“Sekarang aku harus berbicara kepada kamu untuk sementara waktu tentang proletariat yang disiplin, maju, dan sadar, tetapi itu akan sia-sia, karena kamu tahu betul manfaatnya yang tak terbatas sebagai beban binatang buas dan dari cambukan. Sebagai gantinya, aku akan menyebutkan berbagai partai politik, republik, sosialis dan komunis.

Semua pihak adalah setara, semua didasarkan pada alasan negara, berdasarkan prinsip otoritas. Ini bukan perjuangan untuk kebebasan, tetapi lebih untuk penggantian satu atau lebih tirani dengan tirani yang lain. Di Rusia, misalnya, Lenin datang setelah Tsar, dan Lenin akan diikuti oleh … Lenone [2] dan seterusnya, karena itulah yang diinginkan oleh hukum moral.”

“Seperti yang Anda ketahui, bahkan kaum anarkis — yang lebih baik ditunjuk dengan nama komunis libertarian — kebal terhadap moralisme. Pernahkah Anda mendengar bagaimana mereka berkhotbah dan bagaimana mereka berpendapat tentang Dewi Moralitas?

Mereka juga mengatur, yaitu menipu diri sendiri dan menipu orang lain. Mereka juga ingin menebus dunia, seolah-olah kebebasan dapat diberikan. Sebaliknya, kebebasan harus dijalani. Dan mereka berbicara kepada massa tentang sinar esok hari: dan massa tidak memahami apa pun, atau mereka memalingkan pandangan ke arah Tanah yang dijanjikan. Besok revolusi dan pengambilalihan, besok persamaan, kebebasan dan kebahagiaan untuk semua. Sementara itu, orang mati kelaparan.

Teori masa depan adalah teori tentang mimpi yang kurang lebih indah, tetapi sangat jauh dari kenyataan. Itu adalah teori kekristenan. Kristus mati dua puluh abad yang lalu, tetapi kekristenan masih hidup dan menang. Kristus, untuk cinta manusia, mengatakan Besok!

Semua aliran sosialisme berulang, seperti nuri, Besok !, Besok! Bayangan aku — bayang-bayang Moralitas — yang, untuk mengaburkan realitas masa kini, berbicara tentang terang masa depan.

Aku telah melemahkan dan menjinakkan anarkis; Aku telah membuat mereka jujur dan sopan; Aku telah berbicara dengan cinta terhadap kebencian, keadilan dan bukan balas dendam, dan mereka —  yang kuat dari perlindunganku — telah bangkit di mimbar dan —  sebagai kaum revolusioner —  telah berkhotbah menentang tindakan terorisme individu dan —  sebagai pengambil alihan —  menentang pengambilalihan oleh individu. Apakah itu tidak masuk akal bagimu? Tentu, karena bagi mereka individu bernilai jauh lebih sedikit daripada mikroba patogen, sedangkan masyarakat adalah segalanya.

Adalah perlu untuk menghancurkan egoisme dalam diri manusia — mereka menangis berlebihan — karena ketika egoisme dihancurkan, manusia akan hidup bahagia di bumi sebagai saudara yang baik. Sedangkan kamu mengatakan kepada semua orang dan terutama kepada kaum revolusioner: Jadilah egois, karena semakin egois kamu, semakin haus kamu akan kebebasan dan kebahagiaan, dan semakin sedikit kamu akan bisa mentolerir keadaan kesengsaraan dan perbudakanmu.

Hari ini, sebagai konsekuensi dari reaksi polisi fasis, kamu mulai berbicara di surat-suratmu tentang diperlukannya anarkisme heroik lagi. Tetapi tetap bahwa anarkis moralis, akan menstigmatisasi setiap tindakan dari pemberontakan individu, tidak akan pernah berkurang. Kaum sosial-anarkis adalah orang-orang yang menurunkan derajat, bermerek, melemparkan batu-batu kepada Ravochol, Henry, Vaillant, Duval, Mariani, Aguggini dan begitu banyak pembalas Anarki lainnya. Dan aku melakukan ini kepada diri sendiri, kemuliaan adalah milik aku. aku Moralitas, lahir dari kebodohan buta dan roh otoriter kemanusiaan, dan aku harus menjalankan fungsiku dari pikiran yang gelap, menciptakan hantu menakutkan yang paling buruk, memadamkan semangat pemberontakan apapun, dan selama aku hidup, manusia akan menjadi budak, miskin dan pengecut. Dan bahkan kamu tidak akan terhindar dari kemurkaanku, murka yang kejam, oh iblis jahat. ”

“Berhenti, demi Tuhan!” — Aku meraung — dan dalam sepersekian detik mengeluarkan belati beracunku; Aku bergegas ke arah monster menampar tenggorokannya dengan mengerikan. Monster yang terluka parah itu menancapkan cakarnya ke dagingku yang miskin, membuatnya berdarah dan memuntahkan lendir kuning kehijauan berbau busuk dari mulutnya, benar-benar membanjiri wajahku. Tetapi pukulan baru dan lebih mengerikan dari pisauku menghujani monster itu, yang menjatuhkannya ke tanah. Dia sudah mati. Aku langsung berpikir untuk memotong hatinya untuk diperlihatkan kepada teman-temanku, rekan-rekanku, saudara-saudara lelakiku dalam kesedihan dan perjuangan. Dan aku siap untuk tugas dengan senjata saya.

Tapi, bayangkan, oh saudaraku, kesan yang kurasakan ketika, di tempat hati, aku menemukan batu besar? Tiba-tiba karena keterkejutanku, aku berseru: “Itu bagus untuk dirinya sendiri.” Ini akan membantuku untuk menyempurnakan pukulanku ketika menghadapi beberapa babi moralistik, jika masih ada.

Erinne Vivani

dari Proletario # 4,
17 September 1922

[1] Pasukan polisi Italia yang dimiliterisasi di bawah wewenang Menteri Ekonomi dan Keuangan.

[2] Sayangnya, ini adalah permainan kata-kata yang menghina yang tidak dapat diterjemahkan. Lenone adalah kata dalam bahasa Italia untuk seorang germo atau mucikari

[Dialihbahasakan oleh Arnit Jetta. Katanya lagi kasmaran, katanya loh, ya!]


Tulisan ini dimuat dalam Arsip Internet Individualis Anarkisme yang dipublikasi oleh Hedonista.


Realis, Idealis, Egois: ‘Tak Ada Yang Kreatif’

 

*)Ditulis oleh Keiji Nishitani. Pengkaji nihilisme.

Stirner membagi sejarah menjadi tiga periode yang ia bandingkan dengan tiga tahap dalam perkembangan individu; yaitu masa kanak-kanak, remaja, dan puncak kedewasaan. Anak-anak  hanya hidup berkaitan dengan hal-hal di dunia ini; tidak mampu membayangkan apapun seperti dunia spiritual di luarnya. Dalam hal itu, dia adalah seorang realis.

Secara umum, anak-anak itu berada di bawah kendali kekuatan alam dan hal-hal seperti wewenang orang tua yang dihadapinya sebagai kekuatan alami dan bukan spiritual. Namun sejak ada dorongan awal pada anak-anak itu untuk belajar pada tanah yang mereka pijak dan melalui pengetahuan yang dia peroleh, dia bisa mengelak atau mendapatkan yang lebih baik dari kekuatan yang memerintahnya. Ketika anak anak  itu tahu sesuatu itu benar, kebenarannya bukanlah beberapa yang independen transenden bagi dunia; itu tetap menjadi kebenaran di dalam banyak hal. Dalam pengertian ini, anak-anak hanya hidup di dunia realistis.

Sebaliknya, kaum muda (remaja) adalah seorang idealis. Dia merasakan keberanian untuk menolak hal-hal yang sebelumnya dia pernah merasa takut dan kagum. Dia bangga pada kecerdasannya dalam melihat hal-hal seperti itu dan menentangnya dengan sesuatu—seperti alasan atau hati nurani. Sikapnya adalah “spiritual”. Dalam diri pemuda itu, “kebenaran” adalah sesuatu yang ideal yang ada dengan sendirinya sejak awal, terlepas dari hal-hal duniawi; sebagai sesuatu yang “surgawi” yang itu bertentangan dengan semua hal “duniawi” yang tercela. Dari sudut pandang ini, pikiran tidak lebih dari ide abstrak tanpa tubuh; yaitu murni pikiran “logis”; ide “absolut” dalam pengertian Hegel.

Namun begitu berada di puncak kehidupan, kaum muda berubah menjadi egois. Dia tahu bahwa yang ideal itu tak ada. Alih-alih memandang dunia dari sudut pandang cita-cita, ia melihatnya seperti apa adanya.  Dia berhubungan dengan dunia sesuai dengan perhatiannya untuk kepentingan diri. Anak-anak itu hanya memiliki minat yang tidak spiritual, bebas dari pikiran atau ide. Remaja hanya memiliki minat spiritual; tapi ketika dewasa, manusia memiliki kepentingan jasmani, pribadi, dan egoistik (leibhaftig, persönlich, egoistisch). Manusia menemukan dirinya sebagai roh dan kehilangan dirinya lagi dalam roh universal, dalam penyempurnaan, dalam roh kudus, dalam dirinya, dalam kemanusiaan; singkatnya dalam semua jenis cita-cita; manusia menemukan dirinya sebagai roh jasmani.

Pertumbuhan individu melalui tahapan realis, idealis, dan egois adalah proses menemukan dan mencapai diri sendiri . Pada mulanya, dirinya berada di belakang semua hal dan menemukan dirinya sendiri: sudut pandang roh. Dirinya sebagai roh mengakui dunia sebagai roh, tetapi diri kemudian harus pergi di belakang roh ini untuk memulihkan diri. Ini terdiri dari kesadaran bahwa diri manusia adalah pemilik/pencipta dunia spiritual, roh, pikiran, dan sebagainya.

Roh adalah penemuan diri yang pertama.  Diri sebagai egois adalah penemuan yang kedua terhadap diri; dimana “diri” itu menjadi dirinya sendiri. Dengan tahap terakhir ini, diri dilepaskan dari ikatannya dengan dunia nyata ini dan ke dunia ideal di luar diri; bebas untuk kembali ke kekosongan di dasar hal-hal itu. Kekosongan dari ini dunia sudah diwujudkan dalam idealisme dan si egois melanjutkannya untuk melihat kekosongan dunia lain.

Egois mendasarkan dirinya pada “tidak ada” yang absolut dan ini bukan realisme atau idealisme. Di mana sebelumnya, “roh” dikandung sebagai pemilik-pencipta dunia ini; sudut pandang egois melihat diri sebagai pencipta, pemilik roh, dan dunia spiritual. Inilah yang dimaksud dengan “mengarahkan perhatian seseorang pada ketiadaan”; tidak dalam arti kekosongan, melainkan tidak ada yang kreatif (das schöpferische Nichts); tidak ada yang darinya saya sendiri sebagai pencipta menciptakan segalanya.  Pada dasarnya, egoisme Stirner adalah gagasan Hegelian tentang negativitas absolut (absolute Negativität); dimana realisme dan idealisme digantikan.

Sejalan dengan perkembangan individu dari realisme ke idealisme dan egoisme, Stirner melihat perkembangan serupa dalam sejarah dunia. Dia membedakan antara yang “dahulu” dan “modern”; garis antara hal-hal itu ditarik pada saat kelahiran teisme. Di antara yang terakhir ini, ia juga membedakan “orang bebas” sebagai sebuah istilah umum untuk kaum  radikal pada masa itu yang mengkritik pandangan agama  dan moralitasnya. Menurut Stirner, bahkan “orang-orang bebas” ini belum luput dari dasar moralitas agama yang sedang mereka singkirkan dan karenanya belum menjadi egois sejati. Pada bagian berikutnya, kita akan melacak perkembangan ini dari paganisme ke teisme dan dari teisme ke liberalisme yang menghasilkan egoisme.

[Penerjemah: Fique Al-Botaqy. Sudah punya pacar.]

 

Pekalongan: World City of Wasted!

*]Kabar dari jaringan pembangkang Pekalongan yang menawarkan kesadaran menjaga sungai dari pencemaran limbah industri batik.

Ini sebuah kemuakan kami saat melihat sebuah kondisi yang tak pernah ada keseriusan dalam menangani hal tersebut. Dengan hingar-bingar pembangunan industri yang terus menjamur di kota ini; yang berdampak pada turunnya struktur tanah yang terus menurun; yang berimbas pada wilayah pesisir yang ditenggelamkan—karena pembangunan dan kemajuan industrinya.

 

 

#WorldCityOfLimbah #WisataAirRobPekalongan #KotaPekalongan #SungaiKotor

((Kabar diterima pada 3 Oktober 2019 malam.))